Kiai Kampung Berjuluk Hamba Ilmu

Pembelajar Sepanjang Masa

Namun yang menarik dari KH Syarfuddin Abdus Shomad, walaupun usianya sudah sepuh mungkin tidak ada yang lebih sepuh dari beliau di desanya, adalah girahnya akan ilmu pengetahuan yang tak pernah surut. Semangat ini tampaknya diwarisi dari ayahandanya. Konon, masyarakat Arjasa Lao’ dan Duko Lao’ mengenal Kiai Abdus Shomad sebagai kiai yang istikamah (konsisten) dalam belajar. Bahkan hingga akhir hayatnya. Kitab-kitab yang dikunyahnya meliputi kitab fikih, hadis, tasawuf, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan Kiai Syarfuddin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai putra kiai, adalah wajar jika Kiai Syarfuddin mewarisi kebiasaan-kebiasaan keluarganya. Masa kecil Kiai Syarfuddin dihabiskan untuk belajar kepada ayahandanya, selain mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat). Di bawah bimbingan ayahnya, Syarfuddin kecil belajar Al-Quran, ilmu tajwid, kitab al-Jurumiyah, Safinah al-Najah, dan Sullam al-Taufiq. Di samping belajar ilmu-ilmu umum. Walau begitu, Syarfuddin merasa tidak puas hanya belajar di desa. Menginjak usia dewasa, ia melanjutkan studinya ke Pesantren Annuqoyah Guluk-Guluk Sumenep, Madura. Di pesantren inilah, Syarfuddin muda banyak belajar tentang ilmu-ilmu keislaman pada kiai-kiai Guluk-Guluk.

Karena kondisi perekonomian tidak stabil seperti sekarang sehingga mengganggu suasana belajar di pesantren, maka akhir tahun 1943 Syarfuddin memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Meski terbilang sebentar berada di pesantren ini, tetapi kedalaman ilmu agama yang dimilikinya tak bisa diragukan. Kealimannya sudah masyhur di kalangan masyarakat, terutama di Kangean, Sumenep. Tak heran jika Kiai Syarfuddin dijadikan rujukan masyarakat di kampungnya dalam segala aspek. Baik menyangkut persoalan agama, persengketaan, maupun urusan remeh-temeh masyarakat; pertanian dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan