Kiai Kampung Berjuluk Hamba Ilmu

Dari saking alimnya, konon Kiai Syarfuddin pernah diskusi seputar persoalan fikih selama kurang lebih tiga hari tiga malam dengan KH Abdul Adhim, seorang kiai asal Gowa-Gowa Raas, Sumenep, lulusan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, yang kemudian menetap di pulau Kangean Sumenep, yang kealimannya juga tak seorang pun meragukan. Alhasil, Kiai Abdul Adhim mengakui akan kealiman Kiai Syarfuddin.

Sementara itu, yang tak kala menariknya adalah konsistensi Kiai Syarfuddin dalam menuntut ilmu yang melekat hingga usianya sudah sepuh (97 tahun). Hari-harinya selalu dihabiskan untuk belajar. Kiai Syarfuddin tampaknya mengamalkan betul akan hadis Nabi, yaitu “Tuntutlah ilmu mulai dari sejak lahir hingga akhir hayat (ajal menjemput)”. Karena itu, tidak berlebihan jika Kiai Syarfuddin dijuluki sebagai “hamba ilmu” (orang yang selalu haus akan ilmu). Mengingat, hampir seluruh waktunya tersita untuk belajar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Juga, kitab-kitab yang dipelajarinya (baca) beragam judul. Mulai dari kitab fikih, seperti Safinah al-Najah, Sullam al-Taufiq, Fathul Qorib, Bidayatul Hidayah, Fathul Mu’in, I’anah al-Thalibin, Kifayatul Akhyar, dan lainnya, hingga kitab-kitab hadis dan tasawuf, seperti Riyadhus Shalihin, Shahih Bukhari, Irsyadul Ibad, Kifayatul Atqiya, Ihya Ulumuddin, dan lain-lain. Juga dari bahan bacaan sehari-harinya, tentu selain bacaan amalan-amalan.

Demikian, kisah perjalanan KH Syarfuddin Abdus Shomad yang patut diteladani oleh generasi muda setelahnya. Dari perjalanannya ini bisa diambil hikmah, bahwa usia bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak belajar. Apalagi masih di bawah usianya. Juga, dalam belajar tidak ada istilah terlambat. Kapan pun kita harus tetap belajar hingga ajal menjemput. Semoga KH Syarfuddin Abdus Shomad selalu diberikan kesehatan oleh Allah dan berada dalam lindungan-Nya. Amin. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan