Kiai Nur Hadi, Guru yang (Terus) Hidup

Saya memang selalu mengenakan kain (jarit) seragam setinggi mata kaki. Saya sengaja tidak memakai kain (jarit) seperti yang lain –yang kainnya sampai menjuntai ke tanah. Alasannya praktis saja waktu itu. Saya tidak suka jika kain yang saya kenakan terkena tanah, karena jika menjuntai ke tanah pekerjaan mencuci akan lebih berat dan pastinya akan menghabiskan banyak diterjen.

Dan apa jawaban Kiai Nur Hadi? “Ya tidak apa-apa. Yang salah bukan yang pakai (kain) jarit, yang harus ditanya itu kenapa mata orang (yang bukan mahram) jalan-jalan ke mana-mana”. Sungguh, mendengar jawaban itu saya bahagia bukan kepalang, meski saya tidak begitu paham tentang makna sebenarnya yang ingin disampaikan Kiai Nur Hadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Baru-baru ini saja saya (mengira) bahwa yang disampaikan oleh Kiai Nur Hadi adalah bahwa tubuh itu milik dari masing-masing orang, ia tidak boleh dikontrol oleh siapa pun. Bahwa saya sebagai perempuan mempunyai hak penuh atas tubuh saya sendiri. (Saya juga mengira) Kiai Nur Hadi mengajarkan bahwa jika ada pelecehan terhadap perempuan, perempuan tidak bisa disalahkan begitu saja. Perempuan tidak bisa disalahkan terus menerus, seharusnyalah laki-laki juga menjaga mata dan perbuatannya.

Beberapa bulan sebelum keberangkatannya ke tanah suci, Kiai Nur Hadi wafat. Sore itu saya sedih luar biasa. Kami kehilangan untuk selama-lamanya. Tulisan ini saya khususkan untuk Kiai Nur Hadi yang senantiasa hidup dalam memberikan pelajaran tentang kesederhanaan. Seorang guru yang tidak hanya mengajar dalam ruang-ruang kelas yang terbatas. Seorang guru yang mengajarkan arti sebuah keadilan yang berimbang. Seorang guru, yang meski telah wafat, masih senantiasa hidup untuk terus mengingatkan agar menjadi manusia sederhana yang apa adanya.

Tinggalkan Balasan