duniasantri.co menjadi satu-satunya situs web berita berbasis komunitas santri yang menerapkan konsep citizen journalism. Berikut panduan bagi Anda untuk mengirimkan tulisan ke duniasantri.co:
Status Anda

Jika Anda seorang santri, alumnus pondok pesantren, atau tergolong orang-orang yang bergiat dan berkhidmat di dunia pesantren, Anda dapat menjadi kontributor dan mengirimkan berita/tulisan untuk dimuat di duniasantri.co.
Registrasi Warga duniasantri
Sebelum mengirimkan tulisan, Anda terlebih dahulu harus melakukan registrasi untuk menjadi warga duniasantri. Anda harus mengisi form isian secara benar dan lengkap, seperti nama (sesuai KTP), tempat dan tanggal lahir, usia, nama pesantren/lembaga pendidikan dan alamatnya, dan hobi serta bidang yang diminati. Setelah registrasi divalidasi, Anda dapat mulai submit tulisan. Cara registrasi seperti ini:

Bentuk Kiriman
Tulisan yang Anda kirimkan dapat berbentuk berita (straight news), features, opini, puisi, cerpen, atau lainnya sesuai dengan rubrikasi yang tersedia di duniasantri.co. Anda juga bisa mengirimkan foto-foto atau video hasil dari rekaman peristiwa/kegiatan di pesantren-pesantren dari berbagai pelosok Nusantara.
Berikut tutorial pengiriman ke duniasantri.co:


Ketentuan-ketentuan
- Tulisan harus merupakan karya asli. Dan dilarang keras mengirimkan karya orang lain atau plagiasi dari karya orang lain.
- Tulisan harus merupakan karya asli yang hanya dikirimkan dan untuk dimuat di duniasantri.co. Dilarang mengirimkan tulisan untuk duniasantri yang sekaligus dalam waktu bersamaan atau berdekatan juga dikirimkan ke media lain.
- Batas pemuatan tiap tulisan yang dikirim paling lama dua bulan. Jika pengirim tulisan merasa sudah menunggu terlalu lama namun tulisannya belum rilis, pengirim bisa mengirimkan karyanya ke media lain dengan terlebih dahulu mencabut atau men-delete tulisan yang sudah di-submit di duniasantri.co.
- Tiap tulisan atau karya yang dimuat akan memperoleh honorarium sebesar Rp 50.000 dan hanya bisa dimintakan klaim pembayaran tiap lima kali pemuatan (kelipatan lima pemuatan karya).
- Kontributor yang tidak mengindahkan ketentuan-ketentuan ini akan dinonaktifkan akunnya sebagai kontributor.
TANYA JAWAB MENULIS DI DUNIASANTRI.CO
Sekadar menjawab sejumlah pertanyaan tentang kepenulisan di duniasantri secara umum. Disampaikan dengan model tanya jawab untuk memudahkan pembacaan. Jika masih ada yang kurang nanti akan disempurkan, dan hasilnya akan di-insert ke dalam “Panduan Mengirimkan Tulisan” di web kita.
Seperti apa kriteria umum tulisan yang bisa dimuat di duniasantri?
Ya ditulis dalam bahasa Indonesia (dan Inggris) yang baik, yang baku. Struktur penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah umum yang berlaku, baik itu untuk kategori karya tulisan-tulisan jurnalistik maupun kreatif. Tentu, untuk tulisan-tulisan yang lebih dekat dengan karya jurnalistik, topik-topik yang hangat, yang up to date, yang related dengan kondisi kekinian, akan lebih diutamakan.
Adakah batasan panjang-pendeknya tulisan?
Tidak ada pembatasan apakah tulisan akan sependek ingatan kita atau sepanjang jalan kenangan kita. Sebab, pembatasan panjang-pendek tulisan lebih cocok untuk media cetak yang ruangnya memang terbatas. Media digital ini kan ruang maya, ruangnya tak terbatas. Panjang-pendek tulisan akan lebih pas jika disesuaikan dengan jenis, karakter, dan topik tulisan. Misalnya, untuk tulisan yang bersifat news, informatif, akan lebih cocok jika tulisannya pendek. Tapi jika berupa analisis teoretik dan empirik, atau kajian-kajian yang radiks, atau penyajian dan analisis hasil-hasil riset, yang memang diperlukan tulisan yang panjang, bahkan malah bisa bersambung-sambung. Cerpen saja, yang berarti cerita pendek, tak berarti tulisannya harus pendek. Tapi bagaimana cerita dan penceritaannya.
Apakah tulisan yang sudah baik pasti dimuat? Dan bagaimana dengan politik redaksionalnya?
Pada kasus-kasus tertentu, tidak semua tulisan yang baik, yang sudah menenuhi kaidah-kaidah umum penulisan, dimuat. Misalnya, tulisan yang menyinggung SARA pasti tak dimuat. Yang mengandung unsur diskriminatif, kebencian, penistaan, hoaks, dan semacamnya pasti tak akan dimuat.
Bukan hanya itu, tulisan yang tak cocok dengan karakter politik redaksional juga dikesampingkan. Misalnya, ada tulisan yang temanya membahas keajaiban ayat-ayat tertentu, atau amalan-amalan tertentu, seperti “jika ingin terbebas dari beban utang maka bacalah Al-Fatikhah seribu kali”. Kita tahu hal-hal seperti itu bagian dari tradisi-tradisi santri, tapi bukan ranahnya duniasantri untuk merilisnya. Jika kita ingin menuliskannya, harus tetap dalam perspektif tradisi, menempatkannya sebagai tradisi. Kita bukan pemberi “ijazah” untuk hal-hal seperti itu. Karena itu, sebaik apa pun tulisannya, jika isinya hal-hal berbau seperti itu pasti tidak akan dimuat.
Contoh lain, misalnya, banyak sekali submit naskah dengan tema hukum-hukum domestik, yang merujuk pada produk fikih abad pertengahan. Seperti, ngomongin status hukum anak di luar nikah, hukum poligami, hukum nikah muda, hukum nikah dan syarat-syaratnya, hukum riba, atau halal-haramnya hal ihwal. Bukan pada tempatnya duniasantri merilis artikel-artikel dengan muatan seperti itu kecuali membawa perspektif baru, menawarkan sudut pandang baru, atau ide-ide baru. Karena semua itu sudah ada dalam kompilasi hukum Islam, tak perlu diulang-ulang di sini.
Ada juga, tulisan yang baik namun tak dimuat karena temanya atau topiknya mengulang-ulang hal yang sama yang pernah dimuat di duniasantri. Jadi, penulis duniasantri juga harus membaca-baca tulisan-tulisan yang pernah dimuat di duniasantri. Kalau tema atau topiknya sama, tinggalkan. Kecuali kita akan menghadirkan perspektif baru, sudut pandang baru.
Apakah ada kriteria-kriteria khusus untuk rubrik-rubrik yang berbeda-beda?
Tiap rubrik memang memiliki kekhususan, dan banyak yang mengutamakan local content. Misalnya, untuk rubrik berita Teras. Ini memang dikhususkan untuk berita-berita kesantrian, yang datang dari lingkungan santri atau pesantren. Tapi peristiwa yang diberitakan memang harus update, yang terkini.
Contoh lain, misalnya, pada rubrik Sosok. Sedari awal, rubrik ini memang tak dimaksudkan untuk memuat tulisan tentang profil tokoh-tokoh yang sudah masyhur, yang sudah popular karena sosoknya kerap nampang di berbagai media. Justru, rubrik Sosok ini memberi ruang untuk tokoh-tokoh santri, orang-orang pesantren, atau kiai-kiai kampung yang betebaran di berbagai pelosok Nusantara, yang belum terendus media. Mengglobalkan yang lokal, itulah tujuannya. Karena itu, banyak kiriman artikel yang mengangkat tokoh-tokoh yang sudah sangat popular yang justru dikesampingkan oleh redaksi duniasantri. Itu sekadar beberapa contoh. Kalau kita banyak membaca tulisan-tulisan di berbagai rubrik yang ada, kita akan tahu seperti apa tanpa harus dijelas-jelaskan.
Naskah apalagi yang banyak tak diloloskan, dan kenapa?
Cerpen dan puisi. Cerpen tergolong naskah yang banyak tak diloloskan. Kenapa? Begini, cerpen itu bukan jalan lurus, bukan sirathal mustaqim. Cerpen itu jalan berliku, bercecabang, naik turun, penuh warna, beronak duri, dan tak bisa diduga-duga akan berujung di mana atau mengantarkan kita ke mana. Sebab, cerpen itu bukan menceritakan kehidupan malaikat atau setan, tapi kehidupan manusia yang penuh kemungkinan, penuh misteri.
Ada satu kisah menarik, yang darinya kita bisa membuat pilihan mau menulis cerpen atau naskah khotbah Jumat. Ini kisah Kiai Chudlori Tegalrejo yang popular itu. Suatu waktu Kiai Chudlori didatangi warga desa yang terpecah jadi dua kubu. Satu kubu ingin dana desa digunakan membangun masjid. Kubu lain malah ingin buat beli gamelan. Mereka nyaris berantem hanya karena perbedaan penggunaan dana desa. Mereka akhirnya mendatangi Kiai Chudlori untuk minta pendapat.
Jika kita ingin Kiai Chudlori memberi saran agar dana desa digunakan untuk membangun masjid, tentu yang akan kita tulis berupa naskah semacam bahan-bahan khotbah Jumat atau materi dakwah. Beruntung, ketika itu Kiai Chudlori justru menyarankan agar dana desa dipakai membeli gamelan saja. Alasannya, agar masyarakat rukun. Jika masyarakat sudah rukun, masjid akan terbangun dengan sendirinya melalui gotong royong.
Apa yang disarankan Kiai Chudlori itu, sampai di titik dana desa digunakan untuk membeli gamelan, adalah jalan berliku itu, dan itulah cerpen. Nanti, di titik jika pada akhirnya benar masyarakat dengan bermain gamelan menjadi rukun dan bergotong royong membangun masjid, itulah hikmah.
Jadi, meskipun penulisannya baik, cerpen yang ceritanya “lurus-lurus saja” dan cenderung mendakwahi pembaca, kurang cocok untuk duniasantri.
Kalau puisi bagaimana?
Ini termasuk yang paling rumit dan kompleks untuk dijelaskan. Sebab, tak ada standar dan kualifikasi baku. Tulisan yang penulisannya paling bebas ya puisi ini, termasuk dalam hal pilihan dan pengembangan diksi.
Yang jelas begini: meskipun puisi itu soal rasa soal hati, ia bukan “baperan” kita. Orang nulis puisi itu memang pakai bahasa rasa bahasa hati, tapi tidak harus kita “baper” melalui puisi yang menjadikan puisi kita “puisi baperan”. Kebanyakan puisi yang tak lolos itu ya karena penulisnya baper —selain pilihan diksi dan susunan katanya memang tak berlogos puisi.
Bisa dijelaskan seperti apa gambaran naskah-naskah yang masuk ke duniasantri?
Dari segi jumlah, banyak dan tergolong produktif. Selama tiga tahun ini, total sudah ada hampir 5000 naskah yang masuk dari berbagai genre, dari santri-santri di seluruh Indonesia. Namun, dari jumlah itu, yang layak rilis masih kurang dari 3000. Dan, 2000-an naskah tak diloloskan.
Problem krusialnya di mana sehingga ribuan naskah itu tak diloloskan?
Yang paling krusial karena kita belum terbiasa bermain dengan data dan referensi. Kebanyakan penulis kita belum terbiasa menulis berbasis data, riset, dan referensi yang cukup. Sehingga tulisan-tulisan itu menjadi tak punya makna apa, bahkan bisa tergelincir ke dalam hoaks.
Bisa diberikan contoh?
Ok. Ini salah satu contoh submit naskah yang kalau berbasis data dan riset akan menjadi tulisan sangat brilian. Tulisan itu mengangkat tema wakaf. Sepertinya, penulisnya ingin mengatakan bahwa jika wakaf dikelola dengan baik dan optimal, akan mampu menjadi pengungkit dan memandirikan perekonomian rakyat.
Tulisannya diawali dengan narasi bahwa ekonomi Indonesia mengalami krisis sehingga muncul kemiskinan di mana-mana sebab pengangguran semakin banyak. Disusul kemudian dengan narasi bahwa kondisi demikian bisa diatasi salah satunya dengan pengelolaan wakaf, dan diakhiri dengan teori manajemen tentang wakaf.
Bayangkan, menulis ekonomi tanpa data yang elementer sekalipun. Contoh, data dan indikator yang menunjukkan terjadinya krisis tak disebut, termasuk waktunya. Kalau hari ini kita menyebut Indonesia mengalami krisis ekonomi, dipastikan akan menjadi hoaks karena data resmi menunjukkan hal sebaliknya.
Juga, tentang keberadaan wakaf. Nihil data. Padahal, kalau mau riset kecil-kecilan di Internet, kita bisa tahu berapa sebenarnya nilai dan perputaran ekonominya. Termasuk, bagaimana kondisi lembaga-lembaga pengelola wakaf dan pengelolaannya. Padahal, dengan data dan referensi yang cukup, itu bisa menjadi tulisan dengan tawaran ide-ide brilian.
Submit naskah sejenis yang lain juga banyak. Misalnya, ngomongin tentang stigma kemiskinan dan kemandirian ekonomi pesantren, tapi sama sekali tak didukung datanya. Jadi, ya, bagaimana bisa lolos. Sayang, memang, kita belum terbiasa menulis berbasis riset dan data plus referensi yang cukup.
CATATAN REDAKSI (1)
Catatan dari redaksi ini dibuat khusus untuk sahabat-sahabat mahasantri, namun sebagai pengingat dan untuk pembelajaran bersama, seluruh warga duniasantri sebagai kontributor/penulis duniasantri.co dapat menyimaknya.
Pertama, menulis artikel untuk media massa (baik cetak maupun online) pasti berbeda dengan menulis untuk tugas-tugas akademis, mulai dari paper, skripsi, tesis, sampai disertasi atau karya ilmiah lainnya. Karakter, bentuk, dan gaya penulisannya pasti berbeda.
Dalam catatan redaksi terdahulu, sudah disampaikan tentang bagaimana menulis artikel yang baik untuk media massa. Pada intinya, setiap topik, pokoh bahasan, atau permasalahan ditulis dengan gaya popular. So, sudah pasti “mengabaikan” kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah. Misalnya, tidak perlu ada abstrak, pendahuluan, landasan teori, metodologi penelitian, tujuan penelitian, dan sebagainya.
Untuk itu, di mesin pencari Google ada banyak panduan dan contoh-contohnya.
Kedua, artikel untuk media massa mensyaratkan keragaman dan kehangatan (aktual/kontekstual), baik dari sisi ide/gagasan maupun sudut pandang (angle) dari penulis dan kepenulisannya. Misalnya, karena mahasantri dalam satu jurusan ada tugas kuliah penulisan paper dengan topik hukum keluarga, mata naskah yang submit ke duniasantri.co seragam belaka. Semua membahas tentang hukum perkawinan/perceraian dalam Islam. Dari sudut pandang yang sama. Dan itu jumlah puluhan.
Nah, rasanya tidak mungkin duniasantri.co akan memuat semua tulisan, yang jumlahnya puluhan itu, padahal topik bahasan dan sudut pandangnya sama —dari tinjauan teoretis dan tekstual pula. Pasti hanya akan dipilih satu atau dua tulisan yang memenuhi syarat dan sesuai dengan politik redaksional setelah melalui proses penyuntingan atau bahkan pengguntingan. Tentang ini, sahabat-sahabat mahasantri harus pintar-pinta memilih topik yang menarik, yang hangat, atau memilih sudut pandang yang berbeda.
Ketiga, ini tentang artikel untuk media massa, yang kebetulan jenis medianya media komunitas santri (santri journalism); artinya, kita tidak sedang menulis artikel untuk “buku pintar” atau “buku panduan teknis beribadah” atau bahkan “kitab mujarobat”. Misalnya, tentang keutamaan membaca surat-surat atau ayat-ayat tertentu dari al-Quran. Seperti, agar terhindar dari fitnah harus membaca ayat ini atau itu. Atau, agar rezeki lancar maka bacalah ayat ini atau itu. Itu bukan kaplingnya duniasantri.co. Terhadap fenonema seperti itu, misalnya, duniasantri.co akan berdiri dari sudut pandang tradisinya. Tentang keutamaan dan pahalanya, biarlah itu tetap menjadi rahasia dan urusan Tuhan.
Karena itu, mohon maaf sekiranya tidak semua artikel yang di-submit oleh sahabat-sahabat mahasantri bisa dimuat. Tapi tidak berarti kita harus berhenti menulis untuk duniasantri.co. Bersama dengan berjalannya waktu, kita pasti akan sampai pada satu titik: oh, ternyata menulis itu, menulis untuk duniasantri.co, gampang belaka… dan tiba-tiba para santri dan mahasantri telah menjadi penulis-penulis hebat yang tulisannya dibaca begitu banyak kalangan.
CATATAN REDAKSI (2)
Keempat: sebenarnya kita punya rubrik yang dari awal dipersiapkan sebagai andalan dan kekhasan duniasantri.co, yaitu Santri Way (bisa diartikan “jalan santri” atau “gaya santri, atau justru dibaca sebagai santri wae [Jawa]). Dijadikan andalan dan kekhasan karena rubrik ini dimaksudkan untuk mewadahi cerita-cerita yang hidup di lingkungan pesantren dengan segala ragam keunikan dan kekhasannya.
Namun, rupanya ini menjadi salah satu rubrik yang paling jarang diisi oleh para kontributor duniasantri.co, meskipun kami telah mengawalinya dengan beberapa tulisan yang bahkan sebagiannya merupakan pengalaman pribadi. Padahal, ada banyak cerita hidup yang khas di lingkungan pesantren yang memiliki tingkat human interest tinggi, dengan segala hikmah dan pesan moralnya.
Cerita-cerita itu bisa berasal dari pengalaman pribadi atau kehidupan santri pada umumnya. Bagi santri mungkin cerita-cerita itu sebagai hal yang biasa dan tak bernilai apa-apa. Tapi bagi khalayak pembaca yang lebih luas, akan berbeda sudut pandang dan penerimaannya. Dari tulisan-tulisan yang pernah dimuat di rubrik Santri Way, dapat dipelajari begitulah kira-kira cara penyajian ceritanya.
Kelima: kita juga punya rubrik Bintang yang dimaksudkan untuk mewadahi kisah hidup santri berprestasi. Tapi harus dicatat: prestasi tak melulu soal piala. Seorang santri yang mampu menghafal kitab Alfiah lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan oleh santri pada umumnya, misalnya, jelas layak menjadi bintang. Seorang santri yang mampu mengkhatamkan dan menguasai kitab al-Hikam lebih cepat dari waktu yang dari waktu yang dibutuhkan oleh santri pada umumnya, misalnya, jelas layak diberi bintang. Seorang santri yang dengan segala keterbatasannya mampu menembus dan menyelesaikan studi di perguruan tinggi bergengsi, misalnya, jelas juga layak diberi bintang.
Santri-santri dengan pencapaian seperti itulah, mungkin kita sendiri, atau teman-teman dekat kita, santri-santri di sekitar kita, sangat layak untuk dituliskan dalam rubrik Bintang duniasantri.co. Tentu dengan pertimbangan, jika santri dengan pencapaian seperti itu diprofilkan, akan menginspirasi santri-santri yang lain.
Itulah perlunya ada konsep citizen journalism atau jurnalisme santri.
CATATAN REDAKSI (3)
Keenam: di duniasantri.co, di antara rubrik-rubrik yang ada yang paling digandrungi para kontributor adalah cerpen dan puisi (dibaca: sastra pesantren). Cerpen dan puisi sepertinya menjadi rubrik “primadona”. Saban hari cukup banyak para santri mengirim tulisan berupa cerpen dan puisi. Namun, belum semua cerpen dan puisi yang dikirim para santri bisa dirilis karena, tentu saja, pertimbangan kelayakan (dan juga kemenarikan).
Untuk cerpen, misalnya, tentu saja syarat utamanya adalah kekuatan cerita, penokohan, dan kemenarikan penceritaannya. Banyak cerpen yang dikirim belum menyuguhkan cerita apa-apa. Atau ada cerita tapi “datar-datar saja”. Misalnya, seorang cewek tiba-tiba tanpa alasan yang jelas diputus pacarnya. Setelah dia berdoa, pacarnya kembali dan meminta maaf. Dan sang tokoh kemudian bahagia…. Untuk sebuah cerita, misalnya, lebih kuat dan menarik yang mana: doa yang selalu langsung dikabulkan atau yang sebaliknya?
Begitu juga dengan puisi. Masih banyak yang baru berupa “curahan kegalauan hati”, bukan buah dari kontemplasi, permenungan, dan pergulatan hidup. Masih banyak juga yang kering dari metafor. Malah tak jarang yang digunakan justru bahasa-bahasa teknis-akademis. Puisi tak boleh kehilangan keindahannya, rimanya, dan maknanya.
Lalu apakah kita harus berhenti menulis cerpen dan puisi karena tidak atau belum ada yang dirilis? Tidak! Pertama, kita hanya perlu lebih banyak lagi membaca karya-karya terbaik, baik cerpen maupun puisi, dari penulis-penulis terbaik sebagai proses pembelajaran dan terus mencobanya lagi.
Kedua, kita harus selalu ingat pertanyaan ini: untuk apa sastra ada? Sastra ada karena disiplin-disiplin ilmu yang lain tak bisa menampungnya. Karena itu, ketika menulis karya sastra, kita harus mampu menyuguhkan logika yang berbeda (terbalik?), cara berpikir yang berbeda, sudut pandang yang berbeda, cara dan sikap hidup yang berbeda. Kalau tidak memperoleh sesuatu yang berbeda, buat apa kita membaca karya sastra?
CATATAN REDAKSI (4)
Ketujuh: seperti Santri Way, rubrik Pondok sejak mula juga disiapkan sebagai unggulan dan kekhasan duniasantri.co. Namun, justru tak banyak kontributor duniasantri.co yang mengirim tulisan tentang pondok pesantren untuk rubrik Pondok ini. Padahal, jika mau menuliskannya, ia boleh dibilang bisa menjadi sumber pertama tentang profil pondoknya. Sebab, asumsinya, semua kontributor duniasantri.co adalah santri, baik yang masih mondok maupun yang jebolan pondok.
Seperti sering ditegaskan oleh almarhum Pak Bisri, “Inilah saatnya santri menulis tentang dunianya sendiri, tentang pesantrennya sendiri. Bukan santri dan pesantren yang ditulis oleh orang lain.”
Kami tidak tahu, kenapa santri justru sangat jarang menulis tentang pesantrennya sendiri. Mungkin ewuh pakewuh? Takut kuwalat sama kiainya? Atau tidak tahu bagaimana cara menuliskannya? Entahlah.
Menurut data Kemenag, di Indonesia tercatat ada sekitar 28 ribu pesantren, dengan beragam kategori, kekhasan, dan keunikannya. Betapa itu merupakan sumber pengetahuan yang sangat-sangat kaya, lebih-lebih jika ditulis oleh tangan pertama, dari orang-orang yang mengalaminya sendiri secara langsung.
Ada dua cara mudah untuk melakukannya. Pertama, menuliskan pesantren sendiri tempat kita mondok. Tentu, yang diperlukan adalah data sejarah pondok dan profiling lengkapnya. Data mentahnya tentang itu pasti ada. Tinggal memperkaya dan memperdalam. Profil dasarnya biasanya meliputi proses pendiriannya, tokoh pendirinya, tahap-tahap pengembangannya, program-program unggulannya, perkembangan kesantriannya. Berikutnya kita tinggal menentukan tema, topik, atau angle yang paling menarik, yang didasarkan pada kekhasan dan keunikan dari pondoknya.
Kedua, kita bisa menuliskan tentang pesantren lain, yang bukan pondok kita sendiri. Tentu untuk ini diperlukan riset. Toh, di zaman digital ini, untuk sekadar riset kecil-kecilan sudah ada “Mbah Google”. Yang harus diingat hanya ini: jangan tergantung hanya pada satu sumber. Kita harus punya lebih dari satu sumber untuk menguji hasil riset dan memperkaya bahan. Dan, sama dengan sebelumnya, berikutnya kita tinggal menentukan tema, topik, atau angle yang paling menarik, yang didasarkan pada kekhasan dan keunikan dari pondoknya.
Banyak tulisan tentang pesantren di Rubrik Pondok dihasilkan dengan cara kedua ini. Kita bisa membaca ulang untuk mempelajarinya. Dan ini merupakan salah satu dari produk jurnalistik, dalam hal ini citizen journalism (jurnalisme santri).
CATATAN REDAKSI (5)
Kedelapan: nyaris tak ada kontributor yang tidak pernah mencoba mengirimkan tulisan untuk Rubrik Opini. Ini menjadi seperti mahkotanya duniasantri.co, padahal seharusnya tidak begitu. Seperti pada rubrik lain, lumayan banyak kiriman tulisan untuk Opini yang belum bisa dirilis, tentu didasarkan pada pertimbangan kelayakan dan kemenarikan.
Biasanya, tim redaksi membutuhkan effort yang ekstra untuk memeriksa dan mengkurasinya. Misalnya, satu artikel harus dibaca dulu berulang-ulang sebelum memperoleh sentuhan. Macam-macam problemnya.
Ada tulisan opini yang pembukaannya berupa kalimat-kalimat puitis mendayu-dayu. Banyak yang kalimat-kalimatnya ngalor-ngidul tidak fokus pada pokok bahasannya. Ada pula yang hanya terdiri dari dua alenia pendek. Ada yang bahasanya bertele-tele, dan sebagainya, dan sebagainya.
Susah? Mungkin, bagi yang baru memulainya. Berikut adalah pengetahuan dasar bagi yang memulai belajar menulis opini.
Pertama, tentu kita harus menguasai bidang atau masalah yang akan kita tulis. Kedua, kita harus puny ide atau gagasan apa tentang apa yang akan ditulis. Opini, meskipun artinya harfiahnya adalah pendapat, dalam penulisan opini tak sekadar menuliskan pendapat, tapi harus didukung dengan argumentasi yang logis dan kuat, kalau perlu didasarkan pada teori atau hasil riset.
Ketiga, kita harus menguasai teknik penulisan. Teknik ini berkaitan dengan struktur penulisan, seperti penjudulan, pembuka, pembahasan, dan penutupnya. Dengan struktur yang baik, pesannya lebih mudah dimengerti. Kalau struktur bolak-balik naik-turun, orang keburu capek membacanya.
Keempat, kita memiliki kemampuan penggunaan bahasa yang baik, benar, efektif, efisien, sederhana, mudah dimengerti. Banyak dari kita yang suka menggunakan bahasa yang sok ilmiah dan asing, jelimet dan bertele-tele, agar terlihat keren dan intelek, padahal malah sulit dimengerti. Penulisan opini menghindari penggunaan bahasa seperti ini. Kita juga harus menguasai penulisan dalam bahasa yang benar dan baku.
Bagaimana menulis opini yang baik menurut standar media massa? Selain keempat hal tersebut, ide tulisan opini yang pertama-tama harus aktual. Peristiwa apa yang sedang terjadi dan menjadi pembicaraan masyarakat luas, itulah yang dimaksud dengan aktual, dalam jurnalistik istilahnya peg news atau cantolan peristiwa.
Bagaimana jika tidak ada peristiwa aktual sebagai peg news, sementara kita punya ide untuk menulis opini? Berarti harus ada unsur kebaruan dalam artikel yang akan kita tulis. Kalau tidak ada hal baru, buat apa kita menulis.
Selain itu, kita harus paham bahwa peristiwa yang terjadi di masyarakat jelas bukan monopoli kita. Semua orang tahu. Maka, agar tulisan opini kita memiliki daya tarik, kita harus lihai memilih atau menentukan angle (sudut pandang). Contoh: saat ini semua orang sibuk membincangkan Omnibus Law Cipta Kerja dengan nasib buruh. Penulis yang jeli akan membidik dari angle lain: misalnya, adakah pengaruhnya bagi santri kelak?
Yang tak kalah penting untuk membuat opini menarik adalah bagaimana kita mampu mengeksplorasi ide atau gagasan yang kita ajukan. Untuk menguatkan eksplorasi itu, lazimnya didukung dengan contoh peristiwa atau data. Meskipun begitu, harus diingat, jangan pernah menggurui (publik) dalam menulis opini, karena kita sedang menulis opini untuk beradu argumen. Lain cerita kalau kita sedang menjadi guru atau dai.
Sesungguhnya, Rubrik Opini duniasantri.co ini memuat sekaligus apa yang dimaksud dengan artikel, opini/kolom, dan esai. Meskipun memiliki pengertian sama, semuanya berkaitan dengan penulisan pendapat, namun pada dasarnya ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda. Artikel biasanya berupa sebentuk tulisan nonfiksi berisi fakta dan data yang disertai (sedikit) analisis dan opini dari penulisnya, hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dan ditinjau dari satu disiplin ilmu atau satu teori ilmiah. Ini masuk kategori tulisan ilmiah, dan lebih dekat dengan terbitan berkala atau jurnal.
Opini juga karya tulis nonfiksi dan berisi pendapat atau gagasan dari penulisnya seperti yang terurai tadi.Namun bersifat bebas, logis, obyektif, disertai argumentasi berdasarkan fakta dan data. Namun, pendapat pribadi penulis lebih diutamakan dengan dukungan argumentasi atau penjelasan yang kuat.
Sementara, esai lebih merupakan karangan prosa. Maka, esai bisa dimasukkan ke dalam kategori karya sastra. Meskipun, pengertiannya nyaris sama dengan opini, di antara yang membedakannya adalah faktor analisis, interpretasi, dan refleksi dari penulisnya dengan gaya penulisan dan penggunaan bahasa yang khas. Konon, tingkat paling sulit adalah menulis esai disbanding bentuk-bentuk opini yang lain.
Karena itu, pada esai, meskipun tanpa dicantumkan nama penulisnya, biasanya orang akan tahu oh.. ini tulisannya Kang Sobary, Kang Zastrouw, Mahbud Junaidi, atau bahkan Gunawan Muhamad.
Masih ada satu kunci lagi untuk membuat opini kita memiliki daya tarik untuk dibaca: judulnya harus menarik, eye catching. Pada sambungan berikutnya kita akan berbagi soal bagaimana trik membuat judul semenarik mungkin.
CATATAN REDAKSI (6)
Kesembilan: membuat judul menjadi salah satu bagian paling sulit, terutama untuk tulisan di media dibandingkan dengan untuk karya ilmiah seperti skripsi, tesis, atau disertasi. Kenapa? Faktor pembatas dan tuntutannya jauh lebih banyak. Ada pembatas ruang (space) dan waktu (deadline). Ada tuntutan ketertarikan publik (pasar).
Inilah kenapa, sudah lebih dari setahun duniasantri.co, lebih dari 80 persen tulisan yang dimuat, sedikit banyak judul-judulnya mengalami pengubahan/penyesuaian dibandingkan dengan judul-judul aslinya. Ini menunjukkan memang tak gampang membuat judul yang baik dan menarik.
Nanti kita akan mengambil contoh dari web kita sendiri bagaimana judul-judul itu berubah sebagai proses pembelajaran.
Per teori, kalau kita baca-baca referensi yang ada, syarat judul yang baik itu hanya ini: singkat, lugas, menarik (eye catching/menggoda/provokatif), mudah ditebak, meringkas/menggambarkan isi, logis, dan estetis. Harus diingat, judul hanya berupa frasa, bukan kalimat (sempurna).
Ayo kita bernostalgia sedikit: hingga 2005, koran harian masih menggunakan kertas ukuran karton (sekarang sudah lebih kecil). Kertas ukuran karton itu kemudian dibagi menjadi 9 kolom, lalu diplot per tiga kolom ke samping dan tiga blok ke bawah. Dengan begitu, yang lazim, halaman depan koran selalu berisi 9 berita/artikel plus 3-4 foto/gambar. Artinya, tiap berita/artikel hanya punya tempat 3 kolom ke samping (dan 3-4 alenia sedang ke bawah). Teman-teman santri mungkin ada yang tangannya belum pernah menyentuh koran dengan 9 kolom itu.
Dengan ruang (space) sesempit dan seterbatas itu, maka editor harus mampu membuat judul “sesingkat-sesingkatnya”, namun mampu menggambarkan keseluruhan isi dan menarik minat publik untuk membaca. Karena ittu, judul berita/artikel di zaman itu biasanya hanya terdiri dari 4 maksimal 5 kata dasar (yang sering 3-4 kata dasar).
Maka, sebagai contoh, pada 1994, saat Majalah Tempo dibredel, banyak koran yang memasang headline dengan judul dua kata saja: “Tempo Dibredel”. Malah ada koran yang memasang judul “Ojo Dumeh” —diambil dari kutipan pemrednya. Judul yang hanya dua kata itu telah menggambarkan semua-muanya: peristiwanya dan suasana zamannya.
Belakangan, ketika tren media bergeser ke format digital dalam dunia maya, pembatas ruang (space) dalam pembuatan judul mulai berkurang. Sehingga, ada kecenderungan judul-judul tulisan semakin panjang. Malah, di luar media mainstream, judul tidak lagi berupa frasa, melainkan telah menjadi kalimat tersendiri saking panjangnya.
Nah, sebagai media berkonsep citizen journalism, duniasantri.co tetap mempertahankan kaidah pembuatan judul layaknya media mainstream tersebut: harus singkat, lugas, menarik (eye catching/menggoda/provokatif), mudah ditebak, meringkas/menggambarkan isi, logis, dan estetis.
Contoh pertama adalah tulisan Gus Rusdi Umar dalam tulisan berjudul “Ma Jian: Kiprah Ilmuwan Muslim di Negeri Komunis”. Judul aslinya adalah “Muhammad Ma Jian: Ilmuwan Muslim Tionghoa Modern”. Tak ada yang salah judul lamanaya, namun kurang greget dibanding dengan judul barunya.
Kenapa? Pertama, ada identitas dobel dalam judul lamanya yang membuatnya kurang efektif dan provokatif: nama “Muhammad” dan keterangan “Ilmuwan Muslim”. Kalau menyandang nama “Muhammad” so pasti dia ilmuwan muslim. Jadi salah satunya harus dibuang.
Kedua, penggalan judul atau frase “Ilmuwan Muslim Tionghoa Modern” dalam judul tersebut “tidak bunyi”, tidak menggambarkan apa-apa, tidak mengisyaratkan adanya “gerak hidup”. Dan, ketika diubah menjadi “Kiprah Ilmuwan Muslim di Negeri Komunis”, ia telah menggambarkan segalanya secara provokatif, menjadi lebih hidup.
Dengan demikian, perubahan itu dilakukan untuk memenuhi kaidah penulisan judul yang baik: provokatif dan mengambarkan apa yang terjadi.
Contoh kedua adalah “Tafsir Kedekatan Tuhan dalam Puisi Abdul Hadi MW”. Judul aslinya adalah “Mengurai Kedekatan Tuhan dalam Puisi Abdul Hadi MW”. Yang diubah hanya satu kata: “Mengurai” menjadi “Tafsir”. Ini sekadar pilihan diksi, tapi untuk memenuhi kaidah penulisan judul “lugas”. Yang baru lebih lugas dari yang lama.
Contoh ketiga adalah “Filosofi Sarung”. Judul aslinya adalah “Santri, Sarung, dan Identitas Budaya”. Judul aslinya tak ada yang salah dan sudah baik. Namun, “Filosofi Sarung” lebih memiliki magnitut karena “membonceng” ketenaran judul/istilah “Filosofi Kopi”. Jadi ada unsur “pencatolan” pada istilah yang lebih popular.
Contoh lain adalah tulisan kontributor lain, “Srikandi Literasi di Zaman Nabi”. Judul asli tulisan Sirojul Azmin ini adalah “Srikandi Literasi di Era Nabi Muhammad SAW”. Perubahan judul dilakukan untuk kaidah pemendekan (agar lebih singkat) dari “Nabi Muhammad SAW” menjadi “Nabi”. Juga dimaksudkan untuk memenuhi unsur estetis dengan repitisi bunyi ketika dibaca, di mana hampir semua kata dalam frasa berakhiran i.
Dengan catatan ini, semoga teman-teman santri sudah memiliki trik dan pengetahuan untuk bagaimana membuat judul yang baik. Lebih dari sekadar trik teoritis tadi, pengalaman membaca dan jam terbang juga ikut menentukan hasilnya.
CATATAN REDAKSI (7-SELESAI)
Kesepuluh: Apa istimewanya situs web kita, duniasantri.co, ini saat semua orang, setiap orang, sudah dengan mudah bisa membuat blog-blog pribadi sendiri, membuat situs-situs berbasis web sendiri?
Dengan blog pribadi, dengan situs web sendiri, setiap orang bisa mengunggah konten apa saja dan kapan saja, tanpa harus direcoki oleh redaksi duniasantri.co, misalnya. Dan, teman-teman santri di sini mungkin juga sudah banyak yang memiliki blog pribadi atau situs web sendiri. Ya, lalu apa istimewanya situs web kita, duniasantri.co, ini?
Beberapa bulan yang lalu, ada seorang santri yang tinggal di suatu kota di Filipina melakukan registrasi di duniasantri.co untuk menjadi warga duniasantri, dengan ajuan menjadi kontributor penulis. Setelah di-approved, ia menjalin komunikasi pribadi (japri) dengan salah satu pengurus JDS.
Setelah ngobrol ngalur-ngidul, ia meminta satu hal: begitu ia submit artikel, maunya artikelnya langsung terpublish tanpa harus melalui pemeriksaan/validasi dan editing dari tim redaksi. Kompasiana dan beberapa media berkonsep citizen journalism ia rujuk. Kalau maunya begitu, kami menyarankannya untuk membuat blog pribadi atau situs web sendiri. Sesederhana itu urusannya kalau sekadar mengunggah konten di dunia maya.
