Selain itu, menurut Kiai Imam Zarkasyi, menjadi pegawai itu tidak lebih terhormat dari seseorang yang bekerja sendiri. Karenanya, pegawai hanya punya status di masyarakat, tetapi belum tentu mempunyai peran di masyarakat. (hal. 51).
Kiai Imam Zarkasyi merekomendasikan agar meskipun menjadi pegawai yang tetap memiliki inisiatif untuk melakukan kemaslahatan di masyarakat. Sebab, secara esensinya menjadi pegawai merupakan budak sewaan. Tandanya kalau pegawai budak, maka ia tidak akan berani bergerak kalau tidak ada perintah. Mayoritas pegawai itu mematikan inisiatif. Maka kalau menjadi pegawai jangan sampai mematikan inisiatif. (hal. 45)

Petuah-petuah kebijaksanaan yang disampaikan di dalam buku ini seakan memberikan motivasi, semangat, meluruskan niat dan tujuan dalam menjalani kehidupan bersama dengan masyarakat sekitar. Dalam bidang pertanian, wirausaha, pendidikan, berdagang, bertani semuanya dijelaskan dengan sikap-sikap dan mental yang harus dibangun dalam memulai berbagai bidang pekerjaan tersebut. Seperti anjurannya dalam membuang konsep pendidikan warisan kolonial. Pendidikan kolonial bertujuan untuk menjadikan anak didik sebagai pegawai, sedangkan pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan rakyat. (hal. 40).
Wejangan hidup Kiai Imam Zarkasyi dalam buku ini menunjukkan keseimbangan pemikirannya dalam urusan dunia dan akhirat serta bisa menjangkau esensi dalam menghadapi pekerjaan di masyarakat. Seperti adanya anggapan di sebagian masyarakat bahwa alumni pesantren tidak memiliki peran apa-apa di masyarakat. Sehingga, Kiai Imam Zarkasyi menegaskan bahwa kunci sebuah kekuksesan dalam berbagai hal terletak kepada mentalnya.
Pendidikan di pondok pesantren lebih mengutamakan mental skill daripada job skill. Mental skill adalah bagaimana seorang mengembangkan diri, mengembangkan diri sendiri, serta mengembangkan potensi potensi di dalam diri dan di luar diri. Karena itulah, orang sukses lebih banyak diperankan oleh kemampuan mental daripada kepintaran akademik.
