Kilat Golok Pejuang

“Lapor tuan! Kami di suruh kolonel untuk menyisir ruang penjara. takutnya penyusup itu sudah sampai sana,” jawabku pada tentara patroli yang kini di hadapan kami.

“Kalian siapa? Pasukan dari mana? Aku jarang melihat wajahmu,” tunjuk tentara patroli kepadaku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kami dari Jawa. Pasukan Sentot Prawirodirjo,” jelasku tegas. Tentara itu tampak masih ragu. Kembali dia ingin menanyakan hal serupa pada Ngadiran. Namun, saat membalikan badan, sabetan golokku melumpuhkanya.

Keriuhan di luar masih terjadi. Rembulan yang bersinar terang, menerangi aktivitas di benteng. Dengan sibuk, para letnan menyisir bawahan mereka. Akhirnya kami menemukan kesimpulan, Tuanku telah diasingkan dan dibawa ke Cianjur sebelum kami sampai. Dengan cepat kami berlari keluar menuju barisan tentara.

“Kau amuk barisan tentara itu, Bang. Aku akan membereskan yang lain,” ujar Ngadiran sambil melangkah ke arah lain. Aku merasa heran. Mengapa dia malah memisahkan diri. Tak peduli dengan berpencarnya kami, aku segera mengamuk di barisan tentara tanpa baju di tengah lapangan.

“Arrggh.” Sahut-menyahut rintihan itu memasuki gendang telingaku. Tak sedikitpun rasa takut di hatiku. Golokku terus meliuk ke mana-mana. Para tentara tak siap. Sekejap saja ratusan tentara itu tinggal sedikit. Hunjaman peluru tak mengenaiku. Tembakan yang mengarah ke tengah justru mengenai para tentara di sekitarku.

Saat merasa puas, ketika para letnan mengisi magazin peluru, aku berlari menuju arah tempat Ngadiran berbelok. Tampak dia sudah menjebol jeruji aliran sungai di samping benteng. Kami segera menceburkan diri ke aliran air di bawah benteng.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa tak membantuku?”

Kurasakan kekesalan yang makin memuncak. Apa dia tidak berpikir kalau itu akan membahayakan kami. Untungnya, sekarang sudah di luar benteng. Rimbunan pohon bambu di pinggir aliran air menyamarkan kami.

“Lihat saja Bang!” ujarnya misterius. “Duaaaarr… Duarr… Duarr..,” tak selang lama dari ucapan Ngadiran, ledakan beruntun terjadi di belakangku. Kobaran api menyibak kesunyian menjelang subuh. Kuyakin pasti itu ledakan gudang mesiu di samping pintu aliran air.

ilustrasi: kompas.com

Tinggalkan Balasan