Kisah Kiai Radikal dan Musiknya

Para undangan yang duduk di kursi, termasuk juga kiai “radikal”, sepertinya sangat meresapi alunan musik magadir sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah di atas meja di depannya. Kiai Mahdi, yang humoris, nyeleneh, namun alim dan suka meneliti hal-hal yang tidak dipikirkan oleh orang lain, diam-diam melirik kaki sang kiai “radikal” yang sejak tadi bergoyang-goyang mengikuti irama musik magadir di bawah meja di depannya.

“Kelihatannya dia sangat senang dan bergairah akan musik tersebut ha-ha-ha….” katanya kepada penulis. “Padahal tema dari musik magadir adalah lagu percintaan atau kerinduan seorang kekasih kepada kekasih pujaan hatinya, yang mengharapkan sebuah janji yang pada akhirnya membuatnya sedih,” lanjut kiai Mahdi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melihat kasus tersebut, penulis jadi teringat perkataan seorang cendekiawan Muslim atau juga dikenal sebagai Mujtahid pada era modern dari Mesir, Syeikh Dr Yusuf al-Qardawi (atau juga di sebut Yusuf al-Qaradawi). Guru besar Al-Azhar Kairo tersebut menghukumi musik adalah mubah —meski pendapatnya tersebut ditentang oleh Syekh Al-Albani– selama musik tidak mengajak kepada kekejian dan perbuatan dosa lainnya, maka boleh-boleh saja.

Dalam kitab “Al-Halaal wal Haram” halaman 391, al-Qardawi berkata, “Dan di antara hiburan yang menenangkan jiwa, menyenangkan hati dan dinikmati oleh telinga adalah nyanyian. Islam telah membolehkannya selama tidak mengandung unsur-unsur fahisy (keji), kata-kata kotor atau mendorong perbuatan dosa. Dan tidak apa-apa pula jika di iringi musik (yang tidak terlalu keras) dan mustahab diadakan dalam acara-acara ceria untuk menunjukkan suka cita dan ketenangan jiwa seperti hari raya pengantin, menyambut suatu kedatangan, saat pesta, nikah, aqiqah dan kelahiran anak.”

Secara fitrah, manusia menyukai keindahan dan keteraturan, dan musik merupakan suatu seni atau keindahan yang tumbuh bersama lahirnya manusia itu sendiri. Musik yang menimbulkan suara yang teratur dan mempunyai untaian nada yang kemudian mencipta melodi sehingga menghadirkan suatu lagu yang indah akan menggugah emosi pendengarnya. Baik itu emosi kesedihan, kegembiraan atau perasaan haru, bahkan tidak jarang musik dapat menggugah spiritualitas kita kepada Allah SWT, sehingga akan menambah kekhusyuan dalam beribadah kepadaNya. “Allahul Jamil yuhibbul jamal” (Allah itu Maha indah dan menyukai keindahan).

Dalam kehudupan sehari-hari, kita seringkali menyaksikan alam dengan suara gemericik air, bunyi gesekan bambu, deburan ombak, cicitan burung dan sepoi angin yang sangat indah. Sehingga hal itu dapat menginspirasi para seniman untuk menirukan dan menuangkannya kedalam bentuk musik, dengan menciptakan alat-alat musik yang menimbulkan suara-suara seperti suara alam tersebut.

Kita juga mengenal sejarah Nabi Daud AS yang mempunyai suara yang sangat merdu sehingga dikenal dengan “seruling Nabi Daud”. Ia seringkali menyenandungkan puji-pujian kepada Allah SWT, dengan suara indahnya tersebut. Sehingga tidak jarang suaranya mampu menghipnotis setiap orang yang mendengarnya. Orang sakit seketika bisa sembuh, air dan angin bisa tenang dan damai, bahkan burung-burung dan gunung-gunung ikut bertasbih bersama Nabi Daud AS.

Ini merupakan mukjizat dari Allah SWT. “Seungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bersabih bersama Daud di waktu petang dan pagi, dan Kami tundukkan pula burung-burung dalam keadaan terkumpul. Mereka semua amat taat kepada Allah.” (QS Shaad:19).

Tinggalkan Balasan