Kemungkinan yang kedua, si kiai radikal tersebut memang tidak tahu tema dan terjemahan lagu tersebut, dan disangkanya temanya tentang puji-pujian kepada Allah atau selawatan kepada Nabi. Maka peribahasa yang pantas disematkan, yaitu “Keaenah budduh, masyarakatah lebbi budduh pole” (Kiainya kacau, masyarakatnya lebih kacau lagi). Semoga Allah mengampuni, amin…!
