hidup; sebuah peta hitam yang tak terbaca
gedung-gedung berdiri bagai keranda
maut berjalan dari tahun-tahun yang hening
dari tubuh yang keringan
tak ada yang pernah memberiku hijau
waktu seperti burung-burung lapar
yang membutuhkan sarang
tapi semua ruang sempit
dan hati begitu gamang

waktu telah pupus seperti setangkai bunga
seperti jarum menusuk bangkai-bangkai usia
masa depan tak ada di tangan
sebab semua harapan terampas
dan kemanusiaan kerontang di belangga
bagai nganga bagi pandang yang muram
dan terik seakan tak pernah terusir
bagaimana detik bumi
memulihkan kesakitan jiwaku
dan pohon-pohon menghitam
di gunung-gunung
kembali semula pada-Mu

Kekasih yang Mahakasih, merindu yang Maharindu, menulis kitab mahabbah di pojok-pojok taman surga.