meski hujan menderas
langkahku menuju-Mu begitu keras
dan tak takut basah kesendirian
seolah yang lain dari rinduku
telah menjelma sungai
yang terus setia menuju laut-Mu
dan menjadi gelombang
menciptakan buih-buih keindahan
pada tepian takdir

dan pasir-pasir waktu mengaku
telah begitu menyesal berbuat dosa dan kesalahan
sehingga pada malam, ia terus memainkan
detik-detik kejatuhan butir-butir airmata
SOLILOKUI

Kekasih yang Mahakasih, merindu yang Maharindu, menulis kitab mahabbah di pojok-pojok taman surga.