wayang

Konsekuensi Ketokohan di Ruang Publik

Lingkar Ketokohan Publik

Ada pertanyaan menarik, mengapa pembahasan yang esensinya sama namun diucapkan oleh orang yang berbeda dapat memberikan konsekuensi yang berbeda juga?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita perlu membagi ketokohan manusia dalam beberapa tahapan. Bisa diistilahkan sebagai lingkar ketokohan. Bahwa setiap manusia punya peran dan fungsi masing-masing. Semakin besar, semakin berisiko seseorang mendapatkan masalah atas pembahasan yang disampaikan.

Lingkar pertama kita sebut perhatian. Seseorang dalam lingkaran ini hanya bisa memperhatikan tanpa punya kuasa untuk mengubah apapun. Jumlahnya banyak, namun rendah risiko. Misalnya dalam problematika politik nasional, seseorang di lingkar perhatian hanya bisa mengkritisi dan mungkin mencaci maki kebijakan politik di media sosial. Tidak punya kekuatan untuk mengubah peta politik dan pengambilan keputusan publik.

Dalam aktualisasinya, lingkar perhatian mengedepankan sikap simpati dalam menyikapi sesuatu. Memperhatikan adalah aktivitas primer yang bisa dilakukan semua orang. Mereka hanya tunduk dan patuh pada sistem dan perkembangan sosial. Taklid pada nasihat tokoh ulama atau artis idola.

One Reply to “Konsekuensi Ketokohan di Ruang Publik”

Tinggalkan Balasan