Konsep Humanisme dalam Pemikiran Gus Dur

Meski telah meninggalkan kita sejak dua belas tahun silam, tetapi ia tetap fenomenal. Baik di kancah nasional maupun internasional. Gagasan dan pemikirannya yang inklusif dan progresif, menjadikan ia sebagai sosok yang banyak dikagumi oleh banyak pihak. Bukan hanya umat muslim, melainkan juga non-muslim.

Semasa hidup, pernyataannya acapkali mengundang polemik di tengah masyarakat. Tak jarang membuat orang yang (tidak senang) gerah bahkan menghujat dan mencaci-maki.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dialah KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, sosok intelektual atau cendekiawan muslim yang cukup berpengaruh sampai saat ini. Gagasan-gagasan yang ditawarkan mampu menghipnotis semua kalangan. Bukan hanya di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) sendiri, melainkan merambah ke seluruh penjuru dunia. Kendati demikian, alih-alih ia diposisikan sebagai intelektual muslim progresif dan kritis, kecaman dan caci maki melekat pada dirinya bahkan dicap kafir karena pemikirannya dianggap kontroversial.

Salah satu ciri pemikiran Gus Dur yang tidak asing lagi di telinga kita adalah keinginannya untuk selalu mengetengahkan nilai-nilai etis sebagai jembatan terhadap pelbagai perbedaan. Misal, wacana pluralisme dan humanisme yang kerap digelorakan dalam setiap kesempatan. Bagi Gus Dur, merawat serta menjaga nilai-nilai humanisme merupakan suatu keniscayaan guna melahirkan keharmonisan hubungan antarumat beragama. Jika sampai rusak keharmonisan tersebut, akan sangat sulit untuk dipulihkan kembali.

Yang menarik dari gagasan Gus Dur tentang humanisme adalah ketidaksamaannya dengan humanisme sekuler. Humanisme ini memandang masyarakat berdasarkan rasionalitas. Juga bersifat antroposentris dengan menyatakan bahwa manusia mampu mengatur dan menyelesaikan segala problem yang dihadapi dengan rasionalitas yang melekat dalam dirinya. Bahkan, humanisme sekuler memiliki prinsip, yaitu; berupaya memisahkan agama dari kehidupan sosial, serta menghilangkan nilai-nilai bersifat supranatural dan transenden (nilai-nilai agama beserta ajaran-ajarannya).

Akan tetapi, humanisme ala Gus Dur tetap berpegang pada prinsip-prinsip ajaran Islam (bersifat teosentris) yang diyakini dapat memecahkan segala problem kemanusiaan. Sudah mafhum bahwa Islam menaruh perhatian lebih pada manusia (sangat memuliakan). Ini bisa ditilik dari perlindungan Islam atas hak dasar manusia, yaitu hak hidup, hak beragama, hak kepemilikan, hak profesi, dan hak berkeluarga.

Gus Dur, memaknai humanisme sebagai upaya pemuliaan atas harkat dan martabat manusia setinggi-tingginya di hadapan Tuhan. Gagasan ini bertolak dari pesan-pesan yang dibawa Islam pada umat manusia, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta penghargaannya terhadap kehidupan sosial manusia. Atau, humanisme ala Gus Dur sebagai wacana atau pemikiran yang digunakan untuk memberi rekognisi secara luas terhadap segala hal yang baik bagi manusia, juga memerhatikan akan kesejahteraan setiap individu.

Tinggalkan Balasan