Kontemplasi Hidup ala Franz Magnis Suseno

Sikap tersebut dapat memproduksi sifat pesimis, utamanya berkenaan dengan masalah seperti yang dahulu, kemudian berujung pada wawasan menyempit, akibatnya peluang untuk berkreasi dan berinovasi semakin sedikit. Faktor lahirnya sikap ini biasanya karena prioritas kepentingan pribadi tanpa pertimbangan akan kepentingan orang lain. Kebanyakan tugas ataupun masalah yang kita hadapi ada sangkut pautnya dengan khalayak.

Apabila kita mau mengekskavasi hikmah di balik implementasi tugas dan usaha memecahkan masalah, pasti akan timbul kesadaran bahwa konsekuensi positif semua itu sebenarnya akan bertandang kepada kita sendiri. Konfusius berkata, “Dia yang mau melayani orang lain dengan kebaikan, maka dia telah melayani dirinya sendiri.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tanggung jawab terhadap tugas, masalah, akibat perbuatan pribadi, dan amanah yang begitu sering datang silih berganti, setidaknya menyimpan dua manfaat berdasarkan analisis Dr Magnis Suseno. Pertama, sebagai ajang pengembangan wawasan. Aplikasi tanggung jawab dapat mengisi ruang hidup yang dahaga akan hal-hal bermanfaat. Di tengah perjalanan memikul tanggung jawab, kita akan menemukan hal-hal baru yang turut berpartisipasi bagi peningkatan kualitas wawasan. Sehingga sudut pandang dan observasi kita dalam membaca fenomena, problematika, dan peluang yang tersaji di belantara alam semesta menjadi lebih terasah dan mumpuni.

Kedua, ruang lingkup kebebasan bertambah luas dan harapan menemukan jati diri semakin dekat. Manusia bebas menentukan dirinya. Sedangkan, apabila kita terbiasa pesimis menghadapi rintangan, maka persistensi bisa terkikis tatkala rintangan yang sama atau yang lebih berat darinya kembali menimpa. Akibatnya, harapan mencari jati diri hanya bergejolak dalam lamunan, namun tak direalisasikan dalam bentuk tindakan. Jika demikian, kapan kita akan menuai kesuksesan?.

Tinggalkan Balasan