Konten Toleransi dan Adab Keberagamaan

Sebagai manifestasi adiluhung al-hayawan an-nathiq (hewan yang berpikir), manusia akan senantiasa mendayagunakan akalnya untuk menata kehidupan yang harmonis. Lingkungan telah menempa manusia untuk sejenak berdialektika. Memungut kearifan dalam tiap detail peristiwa lalu berefleksi. Di situlah ia akan mengalami semacam sublimasi berpikir. Mewujudkannya dalam setiap gerak badan, getaran hati, dan sorot mata sebagai ikhtiar mewujudkan budi pekerti yang baik.

Proses berpikir dan berefleksi penting dilakukan dalam mengamati pelbagai fenomena keberagamaan di ruang virtual, juga sebagai langkah awal dalam melahirkan inovasi-inovasi baru. Karena salah satu unsur terpenting dalam sebuah kreativitas ialah adanya dimensi kebaruan, maka inovasi yang dihasilkan melalui pengamatan mendalam terhadap riuh wacana keagamaan di ruang virtual itu mesti menghasilkan kristalisasi gagasan yang solutif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satunya dengan adanya formulasi konten inovatif yang berorientasi mendedah jalan keluar atas ragam fenomena intoleransi di jagat maya. Konten toleransi sejauh ini ampuh memupuk kesadaran publik akan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Ia tak boleh diabaikan. Tersebab keberadaannya mampu menjadi oase yang menawarkan realitas keberagamaan yang sejuk dengan pelbagai upaya preventif yang dilakukan.

Membikin konten toleransi berarti menautkan pesan-pesan positif secara konsisten. Unsur-unsur kredibilitas, memuat nilai, dapat menarik atensi publik, singkat dan padat merupakan sifat-sifat konten yang tak boleh ditinggalkan. Kredibilitas merujuk terhadap usaha mengecek kembali keabsahan dari konten yang akan dibuat. Sumber-sumber rujukan mesti valid. Selain itu, perlu juga mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik ihwal narasi yang logis dan objektif sebagai pengukuh kredibilitas suatu informasi.

Menyisipkan unsur edukasi, nilai, dan ajakan yang memanggungkan orientasi nilai kemanusiaan juga merupakan entitas adiluhung konten toleransi. Nilai-nilai kebangsaan yang meniscayakan sikap kolektif-kolegial antargolongan mesti diinternalisasi dalam muatan isi konten. Disampaikan secara singkat dan padat tanpa harus menghilangkan substansi di dalamnya. Baik konten toleransi berupa video, publikasi artikel, meme, dan audio semaksimal mungkin dibikin publik tertarik. Tidak melulu mengejar viral.

Dalam konteks “menarik”, konten juga diupayakan aktif memuat materi kontra narasi. Materi ini jelas memberikan pesan yang kuat dalam mempromosikan toleransi dan menampik radikalisme keagamaan. Ihwal pertemanan lintas budaya, agama, dan lintas lainnya akan menjadi kisah yang selalu menyegarkan banyak orang. Cerita-cerita indah berkelindan seputar aksi ‘heroik’ seseorang ketika membantu orang yang dianggap ‘lawan’ akan selalu menjadi konten yang menyentuh pembaca. Ada nilai kebersamaan yang ditunjukkan. Ini penting dilakukan terutama di tengah maraknya peredaran pesan-pesan negatif yang mengajak orang membenci dan memusuhi kelompok lain.

Materi kontranarasi itu dapat menjadi instrumen rujukan preventif bagi publik untuk memperhalus rasa beragama. Memenggal tendensi fanatisme berlebihan sekaligus membasuh nurani yang kadung terpekat jelaga egoisme. Sebab, “Dari fanatisme ke kebiadaban hanyalah satu langkah,” kata Denis Diderot. Tak perlu takut dibilang individu yang mengalami instabilitas psikis karena tak memiliki sikap fanatisme. Sebab dengan memenggal tendensi sikap fanatisme, kita lebih beradab dalam membangun kehidupan beragama.

Tinggalkan Balasan