Konten Toleransi dan Adab Keberagamaan

Dengan perasaan terbuka, seseorang dapat melepas tendensi fanatisme dan egoismenya itu. Mau menerima perbedaan dengan pamrih kemanusiaan. Hanya di bawah payung kemanusiaanlah kita berteduh, mengendorkan otot-otot yang tak mau diam saling memusuhi. Payung kemanusiaan meneduhkan sekaligus menyatukan.

Kita bisa menimba pelajaran humanisme seorang Abdurrahman Wahid yang menakhtakan andil kemanusiaan lebih dari sekadar persoalan agama, seorang Fethullah Gulen yang seumur hidupnya getol mempromosikan perdamaian dan hak asasi manusia, atau Sattar Edhi—pejuang kemanusiaan Islam asal Pakistan–yang mendaku dirinya beragama ‘mengabdi kepada kemanusiaan’ sebagai salah satu manifestasi Islam rahmatan lil-alamin, dan masih banyak lagi pejuang kemanusiaan di belahan dunia yang patut dijadikan role model (teladan) terhadap muatan isi konten toleransi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di situlah proses ke-menjadi-an kita sebagai makhluk yang berpikir benar-benar berikhtiar menyemai laku adab keberagamaan di ruang virtual. Konten sarat makna itu merepresentasikan suatu ke “baru” an sebagai sarat mutlak Kreativitas. Biar bagaimana pun kita perlu menyuguhkan konten edukatif di tengah menjamurnya konten-konten performatif yang berorientasi pada pemuasan hasrat semata. Di titik ini, konten toleransi sebisa mungkin harus mendapatkan momentumnya di hati penggandrung jagat media sosial. Ada beberapa tantangan yang harus dilalui.

Beberapa Tantangan 

Tujuan membikin konten adiluhung itu tentu akan selalu diiringi beberapa tantangan yang signifikan. Baik tantangan internal maupun eksternal. Jika mereka pemula, tantangan internal berupa inkonsistensi akan selalu menghantui. Jangan memaksakan diri untuk selalu membuat karya yang sempurna, merayakan setiap keberhasilan yang dicapai, berkonsultasi dengan orang-orang sekitar yang sudah mumpuni berkiprah dalam pembuatan konten media online, dan mengikuti setiap kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan dalam pembuatan konten merupakan sebentuk ikhtiar menjaga konsistensi kita sebagai pemula pembuat konten.

Selain konsistensi, faktor eksternal berupa sikap kontra dari publik terhadap muatan isi konten bisa saja melahirkan para haters (pembenci) yang provokatif. Mereka biasanya mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara-cara negatif, atau bahkan brutal. Sehingga membikin pembuat konten toleransi pemula merasa keder dan enggan meneruskan jejak kreatifnya. Di era pasca-kebenaran seperti saat ini, haters dapat muncul kapan saja melalui pelbagai platform media sosial, baik individu maupun kelompok.

Para pemula pembuat konten toleransi dituntut arif menyikapi realitas problematik macam ini. Kritik-kritik yang tidak relevan, tidak semestinya disikapi secara berlebihan. Selama pembuat konten tidak keluar dari koridor hukum yang berlaku, sudah sepatutnya ia terus melanjutkan agenda kreatifnya itu. Pada titik kesadaran yang lebih sublim, hadirnya haters secara fungsional juga bisa dijadikan bahan evaluasi terhadap cara penyampaian kita dalam konten yang kita buat.

Tinggalkan Balasan