Kontribusi Ulama Perempuan Nusantara dalam Perkembangan Islam

Selain menguasai ilmu qiraat, Nyai Arnah juga termasuk ulama perempuan penganut tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang rutin membaca karya Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli atau akrab disebut Imam Jazuli, yaitu Dala’il al-Khairat. Suatu kitab yang berisi selawat kepada Nabi Muhammad Saw. Maka tak heran, jika Kiai Emed Bakri juga termasuk penganut tarekat yang hampir seumur hidupnya digunakan untuk berpuasa.

Ulama perempuan asal Banten ini menutup usianya antara Oktober 1924 – Juli 1925 dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, tepatnya di Jeddah. Sebab, pada Desember 1916 di Tanah Hijaz, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh klan Bani Saud dengan tujuan untuk memerdekakan Tanah Hijaz dari kekuasaan Turki Usmani. Akibatnya, pelbagai kekacauan tak bisa dihindari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kekacauan ini mencapai puncaknya pada tahun 1923, di mana kekuasaan Tanah Hijaz dari Turki Usmani berpindah kepada keluarga Bani Saud. Sementara, pemberontakan penduduk Yaman yang digawangi oleh keluarga Idris melawan pemerintahan Bani Saud juga memperparah keadaan. Karena situasi yang sudah tidak kondusif, maka pemerintah Kolonial Belanda memulangkan ribuan para koloni haji dari Nusantara yang bermukim di Mekkah.

Walaupun Nyai Hj Arnah sudah wafat, memori ingatan masyarakat Banten perihal perjuangan beliau tetap melekat dalam ingatannya. Ratusan murid Nyai Arnah terutama dari kalangan kaum perempuan telah menyebar luas ke pelbagai wilayah di Nusantara ini.

Nyai Siti Zubaidah

Tidak kalah menariknya dengan Banten. Betawi juga telah banyak melahirkan ulama perempuan kesohor, selain dari kalangan kaum laki-laki. Ulama perempuan itu adalah Nyai Hj Siti Zubaidah binti H Hasanuddin. Nyai Zubaidah merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara yang lahir dari pasangan H Hasanuddin dan Hj Hindun. Ia lahir sekitar tahun 1941 atau 1942 di Cipinang Kebembem, Jatinegara.

Sejak usia belia sampai menikah, Nyai Zubaidah mengaji pelbagai ilmu-ilmu keislaman, khususnya kitab kuning kepada KH Abdul Hadi, seorang ulama Betawi di Cipinang Kebembem. Di antara ilmu-ilmu yang dipelajarinya adalah nahu-saraf, akidah, akhlak, dan fikih. Kemudian, menginjak usia 21 tahun, tepatnya pada 1962, beliau dinikahi oleh KH Hasbiyallah, pendiri Perguruan Islam Al-Wathoniyah, dan status Nyai Zubaidah sebagai istri ketiga Kiai Hasbiyallah. Dari hasil pernikahannya ini, beliau dikaruniai dua orang anak putra dan putri, yaitu Nyai Hj. Hilmah dan KH Saifullah Hasbiyallah.

Menarik, meskipun Nyai Zubaidah sudah menikah dan dikaruniai seorang anak, kehausannya akan ilmu pengetahuan tak pernah susut bahkan kian berkobar dari waktu ke waktu. Terbukti, beliau melanjutkan belajar ngaji kitab kuning kepada KH Hasbiyallah, suaminya sendiri. Sebagai seorang tipe pembelajar yang tekun dan gigih, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mengaji pada sang suami.

Nyai Zubaidah mengaji kitab kuning setiap selesai salat Zuhur atau selesai salat Ashar. Artinya, beliau belajar tergantung waktu yang diluangkan suaminya. Saking semangatnya menimba ilmu, seluruh kitab-kitab yang dipelajarinya itu khatam atau selesai. Maka tidak heran, jika Nyai Zubaidah sangat paham betul terhadap isi kitab Alfiyah Ibnu Malik beserta Syarahnya, Bulughul Maram hingga kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali yang masyhur itu. Sungguh teladan mulia.

Tidak hanya mengaji, Nyai Zubaidah juga turut mengajar di 22 majelis taklim ibu-ibu setiap bulannya. Bermodalkan ilmu yang diperoleh dari Kiai Abdul Hadi dan suaminya, maka majelis taklim asuhannya tersebar luas di sekitar daerah Klender, Tanah Koja, Kampung Bulak, Kampung Sumur, Rawa Bandung, Kampung Jati, Cipinang, dan Pulo Kambing. Juga, beliau menjadi guru tetap di majelis taklim ibu-ibu di Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Selain mengajar keluar, Nyai Zubaidah juga dipercaya oleh suaminya untuk mengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah. Sebelum pesantren ini berdiri, Nyai Zubaidah sudah lama terlibat (membantu) pembangunannya tatkala pondok pesantren ini dalam masa pembangunan. Beliau pun mencari bantuan dana demi membantu suami tercintanya membangun pesantren.
Walau Nyai Zubaidah mencari dana, tetapi cara yang ditempuh dan digunakan cukup unik, bahkan terbilang cerdas pada masa itu. Adalah dengan menulis sebuah risalah berbahasa Arab-Melayu yang diberi judul Kaifiyah Sembahyang Tarawih dan Salat Idain.

Tinggalkan Balasan