Tujuh kelopak kembang pinang kering beserta tujuh potong lidi yang diikat benang putih tersimpan rapat dalam kepalan tangan Subki. Baginya, memegang benda itu bagaikan memegang kehidupan Sulima, istrinya yang sudah empat bulan terbaring sakit. Ia beranggapan pada benda itulah nyawa Sulima dipertaruhkan; hidup atau mati.
Dari balik pintu, ia memastikan Sulima sudah tidur pulas. Kemudian melangkah pelan, tubuhnya diatur sedemikian ringan agar tak menyenggol benda-benda yang bisa menimbulkan bunyi. Dengan gerak tertatih dan penuh awas, kemudian menaruh benda yang dipegangnya itu di bawah kasur Sulima. Ada kebahagian terpancar dari kedua bola matanya saat benda-benda itu berhasil ia taruh sesuai petunjuk dukun tanpa membuat Sulima bangun.

“Maaf, sayang. Aku terpaksa melakukan semua ini di saat kamu sedang pulas. Sebab jika tidak demikian, kamu pasti menolak yang magis dan memarahiku dengan kasar,” getar lirih bibir Subki diricik butiran air mata. Sebentar menggelengkan kepala sebelum akhirnya keluar; khawatir Sulima tiba-tiba bangun.
***
“Mohon kamu jangan masuk dan jangan mendekati aku, Mas. Aku terkena TBC, aku khawatir menular lewat napas. Jangan salah paham. Aku bilang menjauh karena aku sayang kamu, Mas!” suara Sulima memelas.
“Kamu itu kena guna-guna.”
“Aku tidak percaya guna-guna dan sihir. Aku lebih percaya ilmu medis, karena itu ilmiah.”
“Dari dulu kamu memang begitu. Kalau aku lebih percaya ilmu magis, karena ada lebih dulu, sejak zaman nenek moyang kita.”
‘Itulah kesalahanmu, Mas. Percaya kepada yang tidak ilmiah.”
“Apa semuanya harus ilmiah? Kalau tidak ilmiah tapi terbukti itu juga bagus kan?”
“Magis tak pernah terbukti.”
“Jangan sombong kamu!”
Subki melirik Sulima dengan wajah bagai dipupur cabai. Matanya tampak memendam amuk kebencian. Kebencian yang sebenarnya tumbuh dari rasa cinta dan sayang kepada Sulima. Ia membenci Sulima karena tidak percaya pada magis yang—menurutnya—bisa mengancam nyawa istri tercintanya itu.
“Tak ada maksud lain setiap kali aku menyarankanmu untuk percaya pada hal magis, kecuali niat mulia karena aku ingin menyelamatkan nyawamu, Sayang.”
“Sama, Mas. Aku memintamu menjauh dariku biar kamu tidak tertular penyakitku. Aku melakukan itu dengan petunjuk medis juga karena aku mencintaimu.”
Subki tak menyahut. Hanya menghela napas berat, seraya melepas pandangnya ke halaman.
“Tolong keluar dari ruangan ini, Mas. Ini demi cintaku padamu, Mas. Agar kamu tidak tertular, atau setidaknya pakailah masker,” ulang Sulima.
“Hmmm. Cintamu dan cintaku seperti ini,” jelas Subki seraya menunjukkan dua butir telur di atas meja; besar dan putihnya sama, tetapi terpisah oleh selembar kertas. Lalu ia melangkah gontai keluar kamar, masih dengan raut wajah yang menunjukkan ketaksudian. Sulima tersenyum melihat suaminya mau menuruti permintaannya untuk mejauh, sebab dirinya tak ingin suaminya itu tertular penyakit TBC yang dideritanya.
***
Sudah hampir seminggu Subki sering menjerit sambil meronta-ronta sendirian di dalam kamar karena menahan rasa sakit di kepalanya. Selain itu, ia juga kerap mual dan muntah. Ia terpaksa menyediakan wadah khusus dari kaleng bekas yang diletakkan bersisian dengan kaki dipan tempat tidurnya untuk menampung muntahannya.
“Gara-gara jin di simpang tiga jalan Aswan,” ujarnya lirih, menirukan perkataan dukun yang sering ia datangi.
Meski kedua matanya perih kemerahan oleh terkaman rasa ngantuk dan meski berkali-kali mulutnya menguap, tapi ia tak bisa tidur, kecuali ketika malam berlalu menyisakan sepotong bulan di penghabisan waktu subuh. Kalaupun dirinya berhasil tidur, itu cuma sebentar, lalu kepalanya kembali sakit, seperti ada puluhan jarum yang melukainya dari arah kegaiban. Membuat tubuhnya begitu kurus, kering, dan menampakkan dengkulan tulang. Ketika cahaya pagi sedikit memaparnya melalui ventilasi, ia kian tampak bagai tengkorak hidup yang sekadar punya mata lebar nan cekung dan rambut gimbal awut berparam ketombe. Tenaganya juga terkuras. Saat berjalan, ia harus memakai tongkat.
