Kopi, Kapital, dan Kematian Intelektual

Lebih dalam lagi, jika kita meminjam kacamata agama, kita akan menemukan degradasi spiritual yang serupa. Agama, pada hakikatnya, adalah pengingat akan kefanaan dan ajakan untuk melakukan refleksi mendalam atas hidup.

Namun, dalam ekosistem kapital, agama sering kali diseret ke dalam ruang kedai kopi sebagai barang dagangan. Diskusi agama di kafe hari ini seringkali kehilangan esensi transendentalnya, tereduksi menjadi simbol identitas yang kaku dan penuh kebencian. Kita kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan “Yang Lain” karena kita terlalu sibuk memuja berhala baru: kenyamanan dan status.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kematian intelektual ini nyata. Ia terjadi ketika kita merasa sudah berpendidikan tinggi hanya karena mampu menggunakan diksi filsafat yang rumit untuk membenarkan kemalasan berpikir kita. Ia terjadi ketika kita menganggap bahwa membaca kutipan singkat di media sosial sudah setara dengan menyelami karya-karya besar.

Kita sedang mengalami infobesity —kegemukan informasi yang justru menyebabkan gizi intelektual buruk. Kopi menjadi saksi bisu dari kerumunan manusia yang terhubung secara digital, namun terputus secara esensial. Mereka duduk bersebelahan, namun tidak ada pertukaran gagasan yang substantif. Hanya ada kesepian yang dipoles dengan filter foto yang estetik.

Kapitalisme telah mengubah kopi menjadi komoditas spekulatif. Ketika harga kopi ditentukan oleh indeks pasar global, bukan oleh kesejahteraan petani yang memetik bijinya, maka di situlah moralitas runtuh.

Ketika kita menikmati kopi seharga ratusan ribu rupiah sambil membiarkan sistem eksploitasi terus berjalan, kita secara tidak langsung merestui penindasan. Secara teologis, ini adalah bentuk ketamakan yang terbungkus rapi dalam gaya hidup urban. Kita mengaku beriman, namun kita hidup di atas fondasi yang dibangun dari penderitaan sesama. Intelektualitas yang tidak dibarengi dengan empati dan tindakan nyata bukanlah intelektualitas; itu hanyalah keangkuhan intelektual.

Lalu, bagaimana kita keluar dari jebakan ini? Kita harus berani melakukan “puasa” dari kenyamanan yang mematikan. Kita perlu mengembalikan kopi ke fungsinya yang asli: sebagai kawan dalam refleksi, bukan sebagai aksesoris gaya hidup. Kita harus berani memutus rantai ketergantungan pada narasi kapital yang mendikte apa yang harus kita sukai, apa yang harus kita beli, dan apa yang harus kita bicarakan. Intelektualitas menuntut keberanian untuk menjadi “asing” di tengah keramaian. Ia menuntut kita untuk tidak takut terlihat bodoh karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar yang mengganggu kenyamanan.

Kematian intelektual bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi dalam sekejap. Ia adalah proses perlahan, semanis gula pada secangkir kopi yang kita sesap setiap pagi. Ia adalah pengabaian sistematis terhadap nurani. Jika kita terus membiarkan diri kita terjebak dalam arus komodifikasi ini, maka jangan heran jika suatu hari nanti, kita akan terbangun dan menyadari bahwa kita bukan lagi manusia yang berpikir, melainkan sekadar konsumen yang terprogram.

Tinggalkan Balasan