Kopi, Kapital, dan Kematian Intelektual

Di sudut-sudut kota yang disesaki lampu neon, aroma kopi yang diseduh dengan presisi laboratorium kini telah menjadi wangi utama dari sebuah ritual peradaban yang sedang sekarat.

Kafe-kafe menjamur, menawarkan bukan sekadar kafein, melainkan “pengalaman”—sebuah komoditas yang dijual untuk menenangkan jiwa-jiwa yang teralienasi oleh ritme kerja kapitalisme lanjut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, di balik denting cangkir keramik dan alunan musik lo-fi yang meninabobokan, tersimpan ironi yang getir: kopi telah berubah dari bahan bakar pemikiran menjadi bahan bakar pembiusan. Kita tidak sedang terjaga; kita sedang mengalami kematian intelektual yang terencana.

Secara historis, kopi adalah katalisator revolusi. Di kedai-kedai kopi abad ke-17 di Eropa, para pemikir, filsuf, dan politisi berkumpul untuk mendiskusikan kebebasan, hak asasi, dan tatanan sosial. Kopi menjauhkan kantuk, membuat otak tajam, dan memicu dialog yang membongkar dogma.

Namun, lihatlah hari ini. Kita duduk di kedai kopi modern, menatap layar gawai dengan mata cekung, terjebak dalam echo chamber algoritma yang memuaskan ego namun membunuh daya kritis. Kopi diminum bukan untuk memantik debat filsafat, melainkan agar kita kuat bekerja sepuluh jam sehari untuk korporasi yang tidak peduli pada eksistensi kita. Kapital telah berhasil membajak stimulan paling revolusioner menjadi pelumas mesin produktivitas.

Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, manusia modern berada dalam kondisi “ketiadaan” yang kronis. Kita memilih untuk mengonsumsi “gaya hidup” guna menghindari tanggung jawab atas kebebasan kita sendiri.

Kopi—dengan segala estetika latte art dan label single origin-nya—adalah topeng yang kita kenakan untuk menutupi kekosongan eksistensial. Kita tidak lagi mencari “kebenaran” di balik segelas kopi; kita mencari pengakuan sosial di media sosial.

Ketika intelektualitas tunduk pada estetika visual, maka pikiran tidak lagi berproses secara dialektis, melainkan sekadar menjadi konsumsi sensorik yang dangkal.

Lebih dalam lagi, jika kita meminjam kacamata agama, kita akan menemukan degradasi spiritual yang serupa. Agama, pada hakikatnya, adalah pengingat akan kefanaan dan ajakan untuk melakukan refleksi mendalam atas hidup.

Namun, dalam ekosistem kapital, agama sering kali diseret ke dalam ruang kedai kopi sebagai barang dagangan. Diskusi agama di kafe hari ini seringkali kehilangan esensi transendentalnya, tereduksi menjadi simbol identitas yang kaku dan penuh kebencian. Kita kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan “Yang Lain” karena kita terlalu sibuk memuja berhala baru: kenyamanan dan status.

Kematian intelektual ini nyata. Ia terjadi ketika kita merasa sudah berpendidikan tinggi hanya karena mampu menggunakan diksi filsafat yang rumit untuk membenarkan kemalasan berpikir kita. Ia terjadi ketika kita menganggap bahwa membaca kutipan singkat di media sosial sudah setara dengan menyelami karya-karya besar.

Kita sedang mengalami infobesity —kegemukan informasi yang justru menyebabkan gizi intelektual buruk. Kopi menjadi saksi bisu dari kerumunan manusia yang terhubung secara digital, namun terputus secara esensial. Mereka duduk bersebelahan, namun tidak ada pertukaran gagasan yang substantif. Hanya ada kesepian yang dipoles dengan filter foto yang estetik.

Kapitalisme telah mengubah kopi menjadi komoditas spekulatif. Ketika harga kopi ditentukan oleh indeks pasar global, bukan oleh kesejahteraan petani yang memetik bijinya, maka di situlah moralitas runtuh.

Ketika kita menikmati kopi seharga ratusan ribu rupiah sambil membiarkan sistem eksploitasi terus berjalan, kita secara tidak langsung merestui penindasan. Secara teologis, ini adalah bentuk ketamakan yang terbungkus rapi dalam gaya hidup urban. Kita mengaku beriman, namun kita hidup di atas fondasi yang dibangun dari penderitaan sesama. Intelektualitas yang tidak dibarengi dengan empati dan tindakan nyata bukanlah intelektualitas; itu hanyalah keangkuhan intelektual.

Lalu, bagaimana kita keluar dari jebakan ini? Kita harus berani melakukan “puasa” dari kenyamanan yang mematikan. Kita perlu mengembalikan kopi ke fungsinya yang asli: sebagai kawan dalam refleksi, bukan sebagai aksesoris gaya hidup. Kita harus berani memutus rantai ketergantungan pada narasi kapital yang mendikte apa yang harus kita sukai, apa yang harus kita beli, dan apa yang harus kita bicarakan. Intelektualitas menuntut keberanian untuk menjadi “asing” di tengah keramaian. Ia menuntut kita untuk tidak takut terlihat bodoh karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan dasar yang mengganggu kenyamanan.

Kematian intelektual bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi dalam sekejap. Ia adalah proses perlahan, semanis gula pada secangkir kopi yang kita sesap setiap pagi. Ia adalah pengabaian sistematis terhadap nurani. Jika kita terus membiarkan diri kita terjebak dalam arus komodifikasi ini, maka jangan heran jika suatu hari nanti, kita akan terbangun dan menyadari bahwa kita bukan lagi manusia yang berpikir, melainkan sekadar konsumen yang terprogram.

Kopi seharusnya menjadi bahan bakar untuk membongkar tatanan yang tidak adil, bukan bahan bakar untuk memperpanjang durasi kerja kita dalam sistem yang menindas. Mari kita kembalikan nalar ke atas meja. Mari kita kembali menjadikan diskusi sebagai jalan untuk mencari kebenaran, bukan sekadar pembenaran.

Sebab, jika kita tidak lagi mampu berpikir kritis, maka saat itulah kita benar-benar mati secara intelektual, meski jasad kita masih tegak berdiri di antara aroma kopi dan gempita kota yang palsu. Ingatlah, kesadaran adalah musuh terbesar kapital, dan kematian intelektual adalah kemenangan mutlak bagi mereka yang ingin kita tetap tertidur pulas dalam kenyamanan.

Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. (2014). Masyarakat Konsumsi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Fromm, Erich. (2018). Memiliki atau Menjadi? Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hardiman, F. Budi. (2015). Demokrasi Deliberatif: Menimbang Negara Hukum dan Ruang Publik dalam Diskursus Teori Kritis. Yogyakarta: Kanisius.

Kartanegara, Mulyadhi. (2007). Menyelami Kesejatian Beragama. Jakarta: Erlangga.

Marcuse, Herbert. (2015). Manusia Satu Dimensi. Yogyakarta: Resist Book.

Sumber foto: hitekno.com.

Tinggalkan Balasan