Memilih sekolah hari ini tidak lagi sesederhana menentukan tempat belajar. Di balik formulir pendaftaran, ada perhitungan yang semakin rumit. Orang tua menghitung biaya pendidikan, biaya hidup, jarak, hingga peluang kerja setelah lulus. Pendidikan perlahan bergeser menjadi sebuah investasi.
Pertimbangan itu semakin terasa ketika pilihan jatuh pada pesantren. Orang tua bukan hanya membayar biaya pendidikan dan kebutuhan mondok. Mereka juga merelakan anak tinggal jauh dari rumah, kehilangan kesempatan membantu pekerjaan keluarga, bahkan menyerahkan sebagian besar proses tumbuh kembangnya kepada lembaga pendidikan. Maka pertanyaan yang muncul menjadi sangat wajar: “apa yang akan dibawa pulang anak saya setelah bertahun-tahun belajar di pesantren?”

Pertanyaan itu menjadi penting ketika melihat dinamika dunia pesantren. Kementerian Agama mencatat terdapat 42.433 pondok pesantren aktif pada tahun ajaran 2024/2025. Jumlah lembaganya terus bertambah. Namun, data EMIS yang diolah GoodStats memperlihatkan jumlah santri mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir dan menunjukkan kecenderungan menurun pada periode terakhir. Di saat yang sama, sekolah formal masih menampung jutaan peserta didik. Data Kemendikdasmen mencatat lebih dari 13 juta siswa SMP sederajat, 7 juta siswa SMA, dan hampir 5 juta siswa SMK. Angka Partisipasi Sekolah BPS juga menunjukkan sebagian besar anak usia sekolah masih berada di bangku pendidikan.
