Berencana hanya dua hari, ternyata baru sepekan kemudian saya bisa “meninggalkan” Yogyakarta. Dari Pesantren Minggir di Sleman, perjalanan saya dipungkasi di tanah-tanah gersang Gunungkidul. Tapi terasa seperti perjalanan menemukan oase sastrawi.
Di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta, jejaring duniasantri (JDS) menggelar Festival Dunia Santri 2026 selama dua hari, 9-10 Juli. Usai acara, saya segera pamit ke KH Ahmad Muwafiq, Pengasuh Pesantren Minggir, untuk kembali.


Tetapi, beberapa tetamu yang diundang JDS ternyata tak pulang-pulang. Sastrawan Agus R Sarjono, misalnya, tak terlihat bersiap pulang ke Bandung. Begitu juga dengan Jamal D Rahman. Penyair asal Madura itu tak juga memesan tiket untuk pulang ke Depok, Jawa Barat. Mereka malah menjadikan rumah cerpenis Joni Ariadinata sebagai “hotel” dadakan.
Di salah satu kamar rumah Joni Ariadinata di bilangan Ambar Ketawang itu ditempeli tulisan “VIP”. Kamar “VIP” itu untuk Agus R Sarjono bersama istri. “Diberi kamar ‘VIP’ masa saya harus pulang sih,” mantan redaktur Majalah Horison itu berseloroh.
Masa iya saya harus pulang duluan? Saya akhirnya memutuskan untuk menunda kepulangan ke Jakarta. Saya ikut berkumpul di “Hotel Joni” itu. Banyak seniman dan sastrawan yang akhirnya berdatangan, sekadar ngobrol ngalor ngidul, salah satunya sastrawan Mustafa W Hasyim.
Tapi karena “Hotel Joni” tak muat, saya akhirnya tidur di rumah penyair Mahwi Air Tawar di bilangan Piyungan. Tapi, di luar waktu tidur, saya ikut berkumpul di “Hotel Joni” itu.
Kami akhirnya menyusun beberapa agenda dadakan. Salah satunya diskusi buku kumpulan puisi karya Agus R Sarjono, Seperti Puisi.
