Kopi, Kitab, dan Kebudayaan

Santri sebenarnya hidup dalam kebudayaan yang sangat kaya, ada budaya membaca, budaya diskusi, budaya menulis, budaya bertanya, hingga budaya saling menghargai perbedaan. Namun, kebudayaan ini sering tak terlihat dari luar. Ia tersembunyi di balik tembok pondok, di balik kesan sederhana sarung dan peci.

Padahal, jika kebudayaan ini diangkat ke permukaan, Indonesia bisa mendapatkan sebuah model pendidikan dan peradaban yang utuh, yakni religius, toleran, sekaligus kritis dan kreatif. Pesantren menyimpan banyak nilai yang dibutuhkan dunia modern, terutama soal ketahanan berpikir dan kepekaan sosial.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari ini, tantangan budaya sangat besar. Gempuran media sosial, budaya instan, dan krisis literasi membuat banyak generasi muda kehilangan arah. Di sinilah santri punya peran penting. Santri bisa menjadi penjaga tradisi, sekaligus penggerak pembaruan. Tapi tentu, ini hanya mungkin kalau kebudayaan santri disadari, dirawat, dan disebarluaskan.

Kopi, kitab, dan kebudayaan adalah tiga serangkai yang tak bisa dipisahkan. Jika ketiganya terus dijaga, maka pesantren tidak hanya akan melahirkan ahli agama, tapi juga pemikir, seniman, dan pemimpin masa depan. Siapa tahu, tulisan-tulisan besar masa depan justru akan lahir dari warung kopi kecil di samping pesantren, ditemani kitab kuning dan hati yang terbuka.

Sumber ilustrasi: ayotegal.com.

Tinggalkan Balasan