Berikutnya, ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali yaitu Makhafah (ketakutan). Takut kepada Allah bisa dialami oleh setiap manusia. Ketakutan itu terjadi, menurut Imam Al-Ghazali, bisa karena melihat dan menyaksikan keagungan Allah dan bisa juga karena banyaknya dosa yang dilakukan seorang hamba pada Tuhannya. Dengan demikian, menurut Imam al-Ghazali, orang yang mengaku takut kepada Allah tetapi anggota badannya bergelimang maksiat, tak bisa disebut khawf.
Selain itu, Imam al-Ghazali menolak ketakutan kepada Allah yang mengakibatkan hilangnya akal. Imam al-Ghazali mengutip Sahl yang berkata, “Jagalah akal budimu karena tak ada seorang wali Allah yang kurang akal.” Dengan ini, Imam Ghazali mengimbau bahwa takut kepada Allah harus dalam ukuran wajar, tak boleh melampaui batas. Ia berkata bahwa takut kepada Allah yang melampaui batas adalah perbuatan tercela.

Tasawuf KH Hasyim Asy’ari
Sementara, dalam bertasawuf, Kiai Hasim Asy’ari lebih menekankan pada pemurnian tasawuf itu sendiri. Pemikiran sufi Hasyim Asy’ari bertujuan untuk memperbaiki perilaku umat Islam secara umum, dan dalam banyak hal dipengaruhi oleh pemikiran imam Al-Gazali.
Kiai Hasyim Asy’ari dalam Risālah Jāmiah al-Maqāshid mengatakan, bahwa untuk sampai kepada Allah, seorang manusia harus melalui beberapa tingkatan-tingkatan dasar, dibagi menjadi lima tingkatan. Dari pernyataan ini sangat jelas, bahwa tahapan dasar untuk mencapai rida Allah dibagi menjadi lima bagian.
Pertama adalah takwa. Hakikat dari takwa adalah bersikap wara (menjauhkan diri atau berhati-hati dalam melakukan sesuatu) dan istikamah (tekun dalam menjalankan ibadah kepada Allah).
