Kedua adalah mengikuti sunnah Rasul. Hakikat dari mengikuti sunnah rasul yaitu dengan penuh kehati-hatian dan berperilaku dengan akhlak yang baik (seperti akhlak yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad).
Ketiga adalah berpaling dari makhluk. Hakikat berpaling dari makhluk yaitu sabar dan memasrahkan segala sesuatunya kepada Allah (tawakal).

Keempat adalah rela kepada Allah (pasrah). Hakikat rela kepada Allah yaitu menerima terhadap ketetapan yang diberikan oleh Allah dan berserah diri kepada Allah.
Kelima adalah kembali kepada Allah (tawakal). Hakikat dari kembali kepada Allah yaitu dengan cara bersyukur kepada Allah dalam keadaan senang dan berlindung kepadanya dalam keadaan susah
Dari pemaparan terkait ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali dan Kiai Hasyim Asy’ari tersebut dapat disimpulkan jika Imam Al-Ghazali dan Kiai Hasyim Asy’ari di dalam bertasawuf cenderung kepada ingin memurnikan nilai-nilai tasawuf agar tidak bertentangan dengan syariat islam. Sehingga, tasawuf disejajarkan dengan syariat dan dijalankan secara seimbang tanpa meninggalkan atau menafikan satu sama lain. Sebab, antara syariat dan tasawuf adalah hal yang berhubungan di dalam pemahaman dan pengamalannya.
Pemurnian tasawuf yang digaungkan oleh Imam Al-Ghazali dan Kiai Hasyim Asy’ari juga agar menghindarkan pemahaman dan pengamalan tasawuf dari hal-hal yang bidah, takhayul, dan khurafat. Sebab, semuanya itu bertentangan dengan syariat dan nilai tasawuf itu sendiri. Sehingga ajaran tasawuf dapat dipahami dan diamalkan sesuai dengan apa yang diamalkan oleh salafusshalih, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Al Ghazali. Selain itu, Kiai Hasyim Asy’ari di dalam bertasawuf mengikuti Imam Al-Ghazali.
