Ilmu tanpa Adab
Namun begitu, meskipun menuntut ilmu diwajibkan dan orang berilmu diberi banyak keutamaan, Islam juga mengajarkan akan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Dan dalam memperoleh suatu ilmu itu, seorang pelajar atau ilmuan harus menyelaraskan antara ilmu yang ia miliki dengan adab, supaya ilmu yang diperoleh tidak membuatnya menjadi seorang yang sombong, takabur, dan ujub atas perolehan ilmunya.

Dalam hal ini, fungsi adab bagi seorang yang berilmu ialah sebagai batas-batas atau pagar dalam mengamalkan ilmunya pada aspek kehidupan sehari-hari dan juga sebagai penuntun menuju hakikat dan keberkahan ilmu yang ia miliki.
Begitu pentingnya adab dalam diri seseorang, sehingga seorang ulama pernah berkata, “Belajar satu bab adab lebih baik daripada engkau belajar 70 bab ilmu.”
Terdapat kisah, suatu hari Ubay bin Ka’ab sedang menunggu kendaraan untuk bepergian. Mengetahui hal ini, maka Ibnu Abbas (saudara sepupu Nabi) segera mengambil hewan tunggangannya dan mempersilakan Ubay bin Ka’ab untuk menaikinnya. Adapun, Ibnu Abbas sendiri berjalan mengiringinya.
Maka, berkatalah Ubay bin Ka’ab kepadanya, “Apa ini, Wahai Ibnu Abbas?”
Ibnu Abbas menjawab, “Beginilah kami diperintahkan untuk meghormati ulama kami.”
Ketika turun Ibnu Abbas dari kendaraannya, Ubay bin Ka’ab mencium tangannya. Lalu, Ibnu Abbas bertanya, “Apa ini?”
Ubay bin Ka’ab menjawab, “Begitulah kami diperintahkan untuk menghormati keluarga Nabi kami.”
Mengenai pentingnya masalah adab ini, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
وأدب المرء عنوان سعادته وفلاحه. وقلّة أدبه عنوان شقاوته وبواره
فما استجلب خير الدّنيا والآخرة بمثل الأدب ولا استجلب حرمانها بمثل قلّة الأدب.
