Korelasi Ilmu dan Adab dalam Perspektif Islam

Artinya: “Baiknya adab seorang hamba adalah tanda kebahagiaan dan keberuntungannya. Sedangkan, buruknya adab seorang hamba adalah tanda kesengsaraan dan kebinasaannya. Tidak ada sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat yang semisal dengan adab yang baik, dan tidak pula ada sesuatu yang bisa menghalangi kebaikan dunia dan akhirat yang semisal dengan adab yang buruk.” (Madarijus Salikin: 2/407.)

Bahkan, Nabi Muhammad yang maksum atau terbebas dari kesalahan, pun masih berdoa supaya dianugerahi akhlak yang mulia. Doa Nabi seperti ini: “Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau. Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim Nomor 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam Islam, adab merupakan fondasi agama. Orang yang beradab akan dicintai masyarakat dan orang yang berada disekelilingnya. Orang yang tidak beradab hidupnya tidak diberkahi Allah dan ilmunya juga tidak akan berkah dan bermanfaat.

Hidup di era masa kini, kita berada pada suatu zaman yang mengalami degradasi moral dan mengabaikan adab. Banyak dari kita hanya mengutamakan ilmu, memperbanyak hafalan dalam menuntut ilmu, atau sekadar membaca, namun meremehkan adab atau sopan santun. Padahal, ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Utsaimin Rahimahullah:

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

Artinya: “Seorang penuntut ilmu, apabila tidak menghiasi diri dengan akhlak-akhlak yang mulia, maka tidak ada faedah menuntut ilmunya.” (Syarhul Hilyah, hal. 7).

Namun demikian, bukan berarti seseorang dituntut hanya beradab, kemudian mengabaikan pentingnya ilmu. Karena, antara adab dan ilmu  mempunyai korelasi yang tidak dapat dipisahkan. Yusuf bin Al husain rahimahullah berkata: “Dengan adab, engkau akan memahami ilmu. Dan dengan ilmu, amalanmu menjadi benar.” (Al Iqtidhaul Ilmi Amal, hal 31).

Dan seorang penyair juga berkata, “Carilah ilmu dan perindahlah cara menuntutnya. Dan ilmu tidaklah dapat diraih kecuali dengan adab.” (disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al jami’ Nomor 997).

Jadi, antara ilmu dan adab tidak bisa dipisahkan. Seseorang tidak boleh hanya mementingkan ilmu, kemudian meninggalkan adab dan akhlak. Dan begitu juga sebaliknya, seseorang tidak boleh hanya mementingkan adab, kemudian meninggalkan ilmu. Hal ini seperti diungkapkan Abu Zakariya An Anbari rahimahullah:

علم بلا أدب كنار بلا حطب، و أدب بلا علم كروح بلا جسد

Artinya: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh.” (Adabul Imla’ wal Istimla’, dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi ).

Tinggalkan Balasan