Kosmopolitanisme Versus Kesetaraan Gender

Wacana kesetaraan gender yang dikaitkan dengan budaya ataupun tradisi turun temurun yang terjadi di perdesaan, mengakibatkan perempuan tidak dapat mengaktualisasikan dirinya sendiri sesuai kehendaknya, namun telah dirumuskan oleh masyarakat bahkan orang tuanya sendiri.

Tradisi tersebut memang masih sangat melekat, namun tidak menutup kemungkinan jika kita pertimbangkan lagi dengan realita yang ada. Masa kini telah zaman modern yang tentunya hampir semua masyarakat dapat mengakses media sosial untuk mengakses informasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan adanya teori kosmopolitanisme ini, banyak harapan untuk para perempuan serta masyarakat sekitarnya mulai mempertimbangkan nasib perempuan yang tidak semuanya dapat menerima budaya yang ada. Bahwa tradisi perjodohan dan pernikahan dini dapat mengakibatkan ketidakadilan hak-hak kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, angka kematian anak dan ibu, angka stunting semakin hari semakin meningkat karena kurangnya edukasi yang mumpuni oleh pasangan suami istri.

Kosmopolitanisme di sini membawa arus agar menganggap laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia, sama-sama masyarakat dunia dan berhak mendapatkan hak-hak asasi manusia yang relatif sama.

Selanjutnya ketika wacana kesetaraan gender dikorelasikan dengan agama, maka akan banyak pihak yang kontra, khususnya dari tokoh agama. Namun sekali waktu saat dikaitkan dengan realita masa kini, sebagian tokoh berpendapat untuk melakukan tafsir ulang atau rekonstruksi dalil-dalil keagamaan yang mengandung ketidakadilan, contohnya dalil-dalil yang bersifat misoginis (dalil-dalil yang memuat ketidakadilan bagi perempuan).

Dalam aspek ini, kosmopolitasime hadir untuk menjadi jalan tengah. Melalui kosmopolitanisme, seharunya sesama manusia saling menghormati dan menghargai satu sama lain termasuk juga kepada perempuan.

Menurut Gus Dur, sekontroversial apapun pemikirannya, pikiran harus diberi ruang berekspesi. Puncak kosmopolitanisme terbentuk pada saat semua orang bebas mengekspesikan pikiran-pikirannya.

Tinggalkan Balasan