Kota Mati dan Ingatan yang Tenggelam

Laki-laki itu lantas menggenggam tanganku. Seperti ingin mengajakku ke suatu tempat. Kami pun berenang. Melewati lorong-lorong. Berpapasan dengan orang-orang. Melewati rumah-rumah, toko-toko, sebuah taman dengan bunga-bunga, bangku-bangku, dan lampu-lampu yang berjajar di sepanjang sisinya. Aku tidak mengerti, apakah aku sedang bermimpi atau berhalusinasi, ini benar-benar menakjubkan.

“Ada intrik dan kisah tak terduga di kota ini, Nona,” laki-laki itu berbicara lagi sembari menoleh ke arahku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku masih bergeming. Sebab, belum mengerti apa yang dikatakan laki-laki itu.

“Ikutlah denganku. Mari kutunjukkan sesuatu.”

Laki-laki itu membawaku berkeliling. Vila-vila mewah berdiri megah. Resor-resor banyak menggelar pesta. Kemudian ia menunjukkan rumah, kolam-kolam pribadi, dan pemandian mewah. Ini benar-benar di luar nalar. Setelah belok kiri dan melewati enam rumah, sampailah kami di sebuah rumah berdinding silver dengan pagar yang sama peraknya. Di beranda, tampak meja bundar dengan dua kursi di kanan dan kirinya. Laki-laki itu mengajakku masuk. Ada sebuah goa yang berisi beberapa patung marmer. Aku tercengang menatap goa itu. Di goa tersebut, aku hampir takbisa membedakan antara manusia dengan anjing. Sebab, orang-orang di dalamnya tengah melampiaskan kesenangan paling liar. Lebih liar dari seekor anjing sekali pun.

Selain goa, ada pula bangunan besar dengan kamar-kamar kecil. Aku pun dapat menangkap suara erangan menjijikkan. Dapat kupastikan itu adalah rumah bordil. Industri hiburan dan seks berdenyut kencang. Kota ini seperti tempat bagi orang kaya dan penguasa melakukan hubungan terlarang dan kesenangan duniawi.

“Mengapa kota ini berada di bawah laut?” tanyaku.

“Baia adalah kota kuno yang tenggelam,” laki-laki itu menjawab pendek.

“Mengapa?”

Laki-laki itu menatapku dalam.

Tinggalkan Balasan