Kota Mati dan Ingatan yang Tenggelam

“Baia memiliki citra negatif dalam sejarah manusia. Layaknya cara pikir bahwa bencana merupakan azab langit atas perilaku manusia yang tamak dan ugal-ugalan. Baia, kota yang dikutuk karena perzinaan,” ujar laki-laki itu.

Beragam tanya berloncatan dalam benakku. Kalau memang kota ini adalah kota mati, lantas mengapa orang-orang yang kutemui tadi masih ada? Tidakkah mereka turut lenyap bersama tenggelamnya kota mereka? Aku terus mengeja tanya dan belum kutemui jawabannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kuil dan patungnya bergemuruh seriuh kepundan kawah yang runtuh. Mengirim ledakan demi ledakan, ketika kemarahan menumpahi jalanan kuno. Mulut-mulut gagu. Percakapan yang ada, adalah hempasan badai yang tertunda. Masing-masing memperhatikan kekacauan sedang berlalu-lalang. Menyeberangi jembatan, melompati genangan, sembari menghindar dari cipratan kemaksiatan.

Aku tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Orang-orang yang kutemui tadi, membatu layaknya patung. Sorot mataku tiba-tiba tertuju ke salah satu patung tubuh seorang laki-laki yang sedang bersimpuh. Patung itu menangis. Dari dua lubang matanya keluar seperti mata air. Diikuti suara rintihan masygul. Meski berada di dasar laut, masih terlihat jelas air matanya mengalir, melewati pipi, dagu, sampai akhirnya membaur dengan air laut.

“Aku tidak habis pikir dengan semua ini,” kataku heran.

“Tidakkah segala perbuatan mendapatkan balasannya?”

***

Yogyakarta, September 2021

*) Cerita ini diadaptasi dari tenggelamnya Kota Baia, Italia.

Tinggalkan Balasan