Lalu berkembang ke pertanyaan: kenapa harus pagi ini? Selanjutnya menjadi: kenapa harus kepalanya? Lantas berubah lagi menjadi: kenapa harus saat dia berjalan ke sawahnya? Kenapa harus kotoran burung? Dan kenapa-kenapa lainnya yang membuat kepalanya menggembung dengan pertanyaan.
Sobri selalu yakin, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam jagad ini. Dan karena prinsip itulah dia selalu mencari dan mencari apa saja yang dia anggap pertanda. Mencari sesuatu dari hal-hal yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap biasa.

Pada kesempatan lain, ia bahkan pernah terkena sakit tifus karena pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut sahabatnya, Solikin. Sahabatnya yang lugu itu melemparkan keluhan tentang hidup orang Jawa yang saat ini menurutnya semakin tercerabut dari akarnya. Entah bagaimana dua kata kunci dari kalimat Solikin tersebut seolah membuka pintu kerisauannya. “Jawa” dan “saat ini”. Dia tidak lagi mendengarkan keluh kesah Solikin, dia tertarik pada pusaran pertanyaan yang kini muncul dari perkawinan dua kata tersebut.
