Dua kata itu kemudaian meresap dan menjadi pertanyaan identitas dan momentum. Kenapa dia dilahirkan dari rahim wanita Jawa? Dan kenapa dia dilahirkan dalam rentang waktu yang memungkinkannya menjumpai berbagai persoalan terhadap identitas kulturalnya? Pertanyaan tadi bagi Sobri bukanlah angin lalu. Ia lebih mirip benalu yang mengisap energinya. Dia terus merenung sejak saat itu tentang kenapa dia dijadikan orang Jawa, kenapa dia dilahirkan dalam rentang waktu saat ini. Ini pula yang membuatnya tidak bisa tidur dan makan. Dia gusar. Dia ibarat potongan puzzle yang mencoba mengidentifikasi dan memetakan perannya sendiri dalam sebuah gambar raksasa yang tentu saja dia juga tidak tahu bentuk gambarnya.
Sobri adalah fenomena. Ia seringkali menganggap dirinya sendiri menerima kutukan lewat sifatnya tersebut. Akan tetapi, di sisi lain, sensitivitasnya itulah yang membuatnya memiliki kemampuan penghayatan yang luar biasa. Dan karena itulah dia akhirnya jatuh sakit selama seminggu!

***
