Kritik Teosentrisme: Hasan Hanafi dan Pembebasan Manusia

Penantang Peradigma

Di tengah dominasi pemikiran teosentris, muncul seorang pemikir Muslim kontemporer yang berani menantang paradigma yang ada: Hasan Hanafi. Lahir di Kairo, Mesir, pada tahun 1935, Hanafi menawarkan sebuah perspektif baru dalam memahami agama, yaitu teologi antroposentris. Saya menganggap Hanafi sebagai seorang pemberontak intelektual, yang berusaha mendobrak tembok-tembok dogma dan membebaskan pemikiran keagamaan dari kungkungan tradisional.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pemikiran Hanafi dipengaruhi oleh berbagai arus intelektual, seperti Marxisme, Eksistensialisme, dan gerakan pembebasan di dunia Arab. Marxisme memberinya kerangka kritik terhadap penindasan dan keterasingan yang dialami oleh masyarakat, sementara Eksistensialisme menekankan pentingnya kebebasan dan tanggung jawab individu.

Gerakan pembebasan di dunia Arab membakar semangatnya untuk melawan penjajahan dan keterbelakangan. Saya melihat perpaduan yang unik dalam diri Hanafi: seorang cendekiawan Muslim yang menerima pengaruh pemikiran Barat, namun tetap berakar pada tradisi intelektual Islam.

Dalam karya-karyanya, seperti al-Turath wa al-Tajdid, Hanafi secara tegas mengkritik teosentrisme yang dinilainya telah membelenggu potensi manusia. Ia menawarkan teologi antroposentris sebagai alternatif, di mana manusia diposisikan sebagai subjek yang aktif dan berperan penting dalam menentukan nasibnya sendiri.

Saya berpendapat, teologi antroposentris Hanafi merupakan upaya untuk “mengembalikan” manusia pada tempatnya yang sebenarnya, sebagai aktor utama dalam drama kehidupan, bukan sekadar boneka yang dimainkan oleh kekuatan gaib.

Membebaskan Manusia

Salah satu kritik utama Hanafi terhadap teosentrisme adalah bahwa ia menciptakan sikap fatalisme dan pasrah pada takdir. Ketika semua peristiwa dianggap telah ditentukan oleh Tuhan, manusia cenderung kehilangan motivasi untuk berusaha dan berubah. Saya percaya, fatalisme adalah sebuah jebakan psikologis yang membuat manusia terlena dalam kenyamanan semu, menyerah pada keadaan tanpa berusaha untuk mengubahnya.

Fatalisme memiliki dampak negatif yang luas, mulai dari menghambat perkembangan individu hingga menghalangi kemajuan masyarakat. Dalam bidang pendidikan, fatalisme dapat menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk belajar karena merasa nilai mereka telah ditentukan oleh Tuhan.

Dalam bidang ekonomi, fatalisme dapat menimbulkan kemalasan dan keengganan untuk bekerja keras karena merasa rezeki telah diatur oleh Tuhan. Dalam bidang politik, fatalisme dapat menciptakan masyarakat yang apatis dan tidak peduli terhadap nasib bangsanya. Saya melihat fatalisme sebagai bentuk “penghindaran” dari realitas, sebuah penolakan untuk menghadapi tantangan dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan hidup.

Teologi antroposentris Hanafi menawarkan solusi atas permasalahan ini. Dengan menekankan peran aktif dan kebebasan manusia, Hanafi mendorong manusia untuk aktif menentukan jalan hidupnya dan mewujudkan potensinya secara maksimal.

Manusia tidak lagi dipandang sebagai objek pasif yang dikendalikan oleh Tuhan, melainkan sebagai subjek aktif yang berperan dalam menciptakan sejarah dan peradaban. Saya berhipotesis, teologi antroposentris Hanafi dapat membantu manusia untuk “bangun” dari tidur panjangnya, menyadari potensi yang dimilikinya, dan berani untuk mewujudkannya.

Menggugat Hierarki Kuasa

Teosentrisme, dengan penekanannya pada kekuasaan mutlak Tuhan, seringkali digunakan untuk melegitimasi struktur kekuasaan yang ada dan menindas kelompok marginal.

Dalam sejarah, banyak penguasa yang mengklaim mendapatkan mandat dari Tuhan untuk memerintah, sehingga kekuasaan mereka tidak dapat diganggu gugat. Saya interpretasikan ini sebagai bentuk “penyembunyian” kekuasaan yang sebenarnya, di mana para penguasa bersembunyi di balik topeng agama untuk melanggengkan dominasi mereka.

Wacana teosentris juga sering digunakan untuk menjustifikasi diskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan, kaum minoritas, dan kelompok-kelompok rentan lainnya. Dengan mendasarkan aturan sosial pada interpretasi teks-teks agama yang bias gender dan kelas, teosentrisme dapat menciptakan sistem sosial yang menindas dan mengekang kebebasan individu.

Tinggalkan Balasan