Saya beranggapan, ini adalah contoh bagaimana “Yang Lain” yang abstrak dan mahakuasa digunakan untuk menormalisasi penindasan dan menghilangkan pertanyaan kritis.
Hasan Hanafi dengan tajam mengkritik penyalahgunaan agama untuk kepentingan politik dan ekonomi. Ia menyerukan perlunya menghidupkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam beragama, serta menolak segala bentuk penindasan yang dilakukan atas nama agama.

Saya memahami kritik Hanafi sebagai seruan untuk “membuka kedok” kekuasaan, mengungkap kepentingan-kepentingan tersembunyi di balik wacana keagamaan, dan memperjuangkan keadilan bagi semua.
Menjembatani Kesenjangan
Teosentrisme cenderung menciptakan dikotomi, sebuah pemisahan yang kaku, antara manusia dan alam. Manusia dipandang sebagai makhluk yang superior, yang berhak mengeksploitasi alam sesuka hati.
Pandangan ini berakar dari interpretasi tertentu terhadap teks-teks agama yang menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Saya melihat dikotomi ini sebagai cerminan dari keangkuhan manusia, sebuah ilusi yang membuat kita lupa bahwa kita juga adalah bagian dari alam.
Namun, pemisahan yang kaku antara manusia dan alam telah menyebabkan krisis lingkungan hidup yang semakin memprihatinkan. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan, dan perubahan iklim adalah beberapa contoh akibat dari pandangan antroposentris yang sempit.
Saya berkeyakinan, krisis lingkungan adalah sebuah “tamparan” keras bagi manusia, sebuah peringatan bahwa kita tidak bisa terus-menerus menindas alam tanpa menerima akibatnya.
Hasan Hanafi menawarkan alternatif dengan mengusung pandangan yang lebih holistik, yang menyatukan, tentang hubungan manusia dan alam. Manusia diposisikan sebagai bagian dari alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Ia menyerukan perlunya etika lingkungan yang berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan rasa hormat terhadap semua makhluk hidup.
Saya menilai pandangan Hanafi ini sebagai upaya untuk “menyembuhkan” luka pemisahan antara manusia dan alam, untuk menemukan kembali keselarasan dan keharmonisan dalam hubungan kita dengan alam semesta.
Teologi yang Membebaskan
Teosentrisme, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, telah mewarnai perjalanan sejarah pemikiran Islam. Namun, di era modern yang penuh dengan tantangan dan perubahan, sudah saatnya kita menggeser paradigma teologi dari teosentrisme ke antroposentrisme.
Saya berharap, pergeseran ini dapat membawa manusia pada kesadaran akan keterbatasan dan ketidaksempurnaannya, membebaskannya dari ilusi kemahakuasaan dan membawanya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat kebebasan.
Teologi antroposentris menawarkan pembebasan bagi manusia dari belenggu fatalisme, penindasan, dan eksploitasi alam. Ia memberikan ruang bagi manusia untuk berkembang, berkarya, dan mewujudkan potensinya secara maksimal.
Saya meyakini, teologi antroposentris adalah jalan menuju tindakan yang etis, di mana manusia bertanggung jawab atas kebebasannya sendiri dan berani mengambil resiko untuk mewujudkan cita-citanya.
Hasan Hanafi, dengan pemikiran kritis dan beraninya, telah membuka jalan bagi kita untuk menghidupkan teologi yang membebaskan. Tugas kita sekarang adalah melanjutkan perjuangannya dengan merefleksikan kembali pemahaman kita tentang agama dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
