KRL, Unta, dan Santri

790 kali dibaca

Hari itu adalah Senin, orang kantoran menyebutnya hari kerja. Hari di mana Bumi dan Langit diciptakan, hari di mana junjungan alam dilahirkan, dan hari di mana para santri berpuasa sunah.

Rasa-rasanya baru kemarin saya bangun subuh, mandi, sarapan, mencari seragam, lalu pergi ke sekolah. Masa-masa SD yang kala itu harus berjalan kaki menyeberang jalan raya, masa SMP yang kala itu harus berlari mengejar angkutan umum, dan masa Madrasah Aliyah yang kala itu sering digebrak oleh lonceng dan pengurus.

Advertisements

Dimulai dari pelajaran English, mengeja dan menghafal Monday, Tuesday, Wednesday, sampai pelajaran ilmu Nahu, يَوْمُ الاِثْنَيْنِ – اللَّيْلَة – غُدْوَةً – بُكْرًا – سَحْرًا , kata-kata itu seakan tak mau hilang dari kepala.

Ketika di pondok, saya dianjurkan untuk selalu disiplin (istiqomah) dengan waktu. Artinya, saya harus mengikuti kegiatan pondok semaksimal mungkin. Dari bangun tidur sampai ke tidur lagi. Teringat akan Kiai yang selalu berpesan pada santrinya, “Jika hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung; jika hari ini sama dengan kemarin,  maka ia menjadi orang yang merugi; dan jika hari ini tidak lebih baik dari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.” Sebagaimana pepatah mengatakan, لَنْ تَرْجِعَ الْأَيَّامُ الَّتِي مَضَتْ

Kiai juga pernah berkata, “Keberkahan ilmu akan dirasakan setelah seorang santri keluar dari pondok.” Ilmu yang berkah akan tetap didapatkan manakala ia ta’zhim kepada guru, dan menurut pribadi saya, intensitas sebuah keberkahan akan sangat terasa setelah seorang santri mengabdi kepada gurunya. Maka, ilmu apa pun yang diajarkan oleh Kiai, sebisa mungkin dipelajari untuk kemudian diamalkan dalam hidup sehari-hari.

Masih saya ingat ketika Kiai memberi amalan-amalan harian berupa wirid, lantas beliau berkata, “Nak, saya cuma punya wirid ini. Kita mah santri, bukan pengusaha, bidangnya cuma ngaji, doa kepada Allah Swt. Jadi amalkan ini setiap hari, mudah-mudahan istiqomah.”

Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah mengantarkan saya menjadi guru sekolah, perkerjaan yang amat mulia. Ditambah status yang sudah menikah, saya harus pulang pergi Bogor-Jakarta via KRL dengan waktu kurang lebih empat jam. Dua kali dalam seminggu (saat wabah Covid-19 melanda). Waktu yang cukup menyita untuk seorang pekerja plus santri.

Namun, karena santri dibekali wirid dari hafalan, tidak masalah berapa pun jarak tempuh dan lama perjalanan, dibanding harus sibuk bermain HP saat di kereta atau melamun. Waktu lebih dimanfaatkan untuk murôja’ah ilmu dan wirid yang dulu dipelajari dan diamanahkan Kiai untuk selalu diamalkan. Bisa membaca zikir pagi-petang, mengulang hafalan juz 30 dan surah-surah pilihan, ataupun mengingat kembali bait nazhom dari kutubut turots.

Toh, ulama terdahulu mengajar muridnya dari kota ke kota dengan berjalan kaki atau mengendarai unta, dan selama di perjalanannya bisa menyelesaikan murôja’ah beberapa juz Al-Qur’an. Masa kita tidak bisa mengikuti dan mengambil ibroh sedikit pun.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan