Kronik Peristiwa 1965 (2): Salah Tembak “Genjer-genjer”

“Saya masih ingat mas Arif mengatakan bahwa lagu itu dimaksudkan untuk mendorong masyarakat Banyuwangi yang sudah kelaparan agar memakannya,” kisah Fatra Abal suatu hari pada 1993. Arif sendiri telah beberapa kali merasakan nikmatnya genjer yang disajikan istrinya yang bukan orang asli Banyuwangi.

M Arif, pencipta lagu “Genjer-genjer”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam kehidupan sehari-hari, selain mengarang lagu, Arif tergolong rajin beribadah. Ke langgar dan ke masjid, kebiasaan Arif sejak kecil, tetap berlangsung terus meski malang-melintang di dunia seni. Demikian pula keakrabannya dengan teman-teman sepengajian, selanggar, dan semasjid. “Arif juga menciptakan lagu-lagu yang bernapaskan Islam”, lanjut Fatra yang lupa judulnya. Oleh teman-temannya, karena kemampuan ngaji dan berbahasa Arabnya yang unggul,  ia dikenal guru ngaji dan bahasa Arab.

Semula, Arif cukup puas dengan grup angklungnya, “Sri Muda” yang independen dan non-partisan. Angklung adalah kesenian yang, mungkin karena selalu mendendangkan Genjer-genjer, lalu dikenal sebagai kesenian genjer-genjer. Tetapi pengaruh Lekra meluas hingga di pelosok kampung Banyuwangi, satu per satu anggota Sri Muda pindah ke grup angklung Lekra “Agung Wilis”. Dan dengan berbagai pertimbangan, Arif pun pada akhirnya mengikuti jejak teman-temannya, masuk Lekra meski ia tetap membawa “Sri Muda”-nya.

Sejak saat itu Arif aktif dalam Lekra, dan atas inisiatif Nyoto yang berkunjung ke Banyuwangi pada 1962 dan mengklaim Genjer-genjer sebagai lagu favorit Lekra, lagu itu pun lalu tersiar luas tidak hanya di Banyuwangi dan sekitarnya, tetapi juga di Jakarta (tersiar melalui RRI dan TVRI). Dan karena itulah, si anak langgar dan guru ngaji itu pun, pada peristiwa 1965, ikut diculik, dan siapa pun, termasuk si pembunuhnya, tak tahu pasti di mana kuburnya. Istri dan anak-anaknya hanya bisa nyelameti tanpa tahu persis tanggal dan harinya.

Tinggalkan Balasan