Sekembalinya dari Syam, Syaqiq al-Balkhi sowan menemui gurunya. Seusai menceritakan kisah burung tersebut pada gurunya, ia menyatakan bahwa ia akan berhenti berdagang demi fokus menjalankan ibadah kepada Gusti Allah Ta’ala dan ngaji kepadanya. Sementara soal rezeki—untuk memenuhi kebutuhannya—ia akan meniru burung tersebut, pasrah sepenuhnya kepada Gusti Allah Ta’ala, karena seekor burung yang cacat pun tetap diberi rezeki, apalagi dirinya yang seorang manusia.
Setelah mendengarkan muridnya dengan saksama, sembari tersenyum Ibrahim bin Adham menjawab, “Kenapa sampean mau meniru burung yang diberi makan, bukan burung yang memberinya makan? Bukankah tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah—memberi lebih baik ketimbang menerima?”

Syaqiq al-Balkhi mengangguk-angguk atas nasihat gurunya. Dan sejak saat itu ia mencontoh perilaku burung yang memberi makanan tersebut dengan cara kian giat berdagang, sementara sebagian keuntungannya ia sumbangkan untuk pesantren gurunya dan membantu sesama manusia.
Mendengar cerita tersebut, sekonyong-konyong kucing itu jadi teringat kisah yang ia dengar saat kembali dari sumur beberapa hari lalu:
Di atas atap sebuah masjid di Mesir, suatu hari Ibnu Absyad an-Nahwi menikmati makanan dengan teman-temannya. Tidak lama kemudian, datanglah seekor kucing sembari mengeong-ngeong mendekati mereka. Terdorong rasa kasihan seseorang di antara mereka memberi makanan padanya. Dan setelah mengambil makanan tersebut dengan mulutnya, si kucing meninggalkan mereka.
Tidak lama kemudian, saat mereka sedang kembali asyik menikmati hidangan, kucing itu datang kembali. Dan setelah seseorang di antara mereka memberinya makanan, ia mengambilnya lalu segera pergi.
Kejadian ini terulang sekali lagi, menjadikan mereka serempak heran, karena menurut mereka, makanan yang mereka berikan tadi lebih dari cukup untuk mengenyangkan perutnya. Kenapa si kucing masih saja bolak-balik ke situ dengan menampakkan geliat seperti meminta makanan pada mereka? Kendati demikian, seseorang di antara mereka tetap memberi makanan padanya. Dan setelah si kucing mengambil dan membawanya pergi, terdorong rasa penasaran mereka sepakat untuk membuntutinya.
Setelah beberapa waktu mengikuti, mereka mendapati kucing itu masuk ke dalam reruntuhan sebuah bangunan. Sesampai mereka di dalam, tampaklah seekor kucing buta yang mana di hadapannya terkumpul makanan-makanan yang tadi mereka berikan. Mereka kini mengerti, rupanya kucing itu mencarikan makanan untuk si kucing buta, dan hal ini menjadikan mereka terselimuti rasa haru penuh kekaguman.
Demikianlah, seiring merenungi dua cerita tersebut, timbul tekad yang cukup kuat dalam benak kucing itu untuk semangat berusaha semampunya mencari makanannya sendiri. Sementara soal apakah ia diberi rezeki saat sedang berusaha mencarinya atau malah di saat ia sedang tidak berusaha sama sekali, hal ini sepenuhnya ia serahkan kepada Dzat yang memberi dan menentukan rezeki seluruh makhluk ciptaan-Nya, yakni Gusti Allah Ta’ala. Kemudian, terbit niat dalam benak, kelak apabila diberi rezeki lebih dari cukup untuk kebutuhannya, maka ia akan berbagi dengan sesama. Dan, karena kini, banyak sisa-sisa goreng ayam di tempat ini, maka ia mengambil sebanyak yang dapat ia bawa untuk kemudian ia berikan pada sesama kucing yang membutuhkannya.
Doplangkarta, 21:18, 25 Mei 2022.
Ilustrasi: lukisan Jeihan Sukmantoro.
