Kucing

Subhanallahil adzim subhanllahi wa bikhamdihi, demikian ucap kucing itu penuh kekaguman, namun yang terdengar oleh orang yang berdiri di hadapannya itu adalah ngeong. Padahal, demikian benak si kucing, hampir seharian ia hanya tidur di pojok risban di teras rumah orang itu, tetapi Gusti Allah Ta’ala—Dzat yang memelihara seluruh makhluk ciptaan-Nya—tetap memberinya rezeki lantaran orang itu berupa goreng ikan bandeng setengah potong. Sontak ia ngulet, meregangkan tubuhnya sembari mengucap bismillahirrahmaanirrahiim untuk kemudian mengunyahnya—memasukannya perlahan ke dalam perut yang sejak semalam memang kosong-melompong.

Apabila tanpa berusaha mencari rezeki, demikian benaknya sembari menjilati remah-remah daging ikan yang tercecer, ia tetap mendapat bagiannya, lantas buat apa berlelah-lelah berusaha mencarinya seperti yang dilakukan oleh beberapa ekor kucing temannya? Mereka tiap malam berburu tikus atau cicak di sekitar rumah warga. Malah, pada satu kejadian, seekor kucing pelah-peloh demi menangkap seekor cicak di hadapannya. Kucing itu telah berkali-kali melompat sembari menerkamkan cakarnya pada si cicak dengan keyakinan tingkat tinggi bahwa buruannya bakal kena. Akan tetapi, nyatanya ia tidak mendapat apa-apa. Padahal, selain dalam jangkauan lompatan dan terkamannya, cicak itu tidak lari ke mana-mana; tetap dalam posisinya beberapa jarak ke atas dari hadapannya. Untunglah, seekor kucing lewat situ dan memberitahunya bahwa cicak yang ia buru sebetulnya berada di dalam tetapi tampak dari luar karena cicak itu sedang menclok pada sebuah benda tembus pandang alias transparan yang oleh manusia dinamakan kaca.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demikianlah, rampung makan dan tidak lupa mengucap hamdalah ia berniat kembali tidur. Akan tetapi, rasa seret yang mengganjal kerongkongan menyeret tubuhnya menyat untuk mencari air di sekitar sumur. Seusai terpenuhi hajatnya, ia berjalan kembali, tetapi di tengah perjalanan—dari balik jendela kamar yang terbuka orang itu sedang menikmati ngaji online—ia mendengar suara orang bercerita, dan karena yang diceritakan tentang seekor kucing, maka kemudian kucing itu duduk nglemprak di bawah jendela, mendengarkan alias batal mendengkur.

***

Sudah dua hari setengah dan hampir-hampir tiga hari orang itu tidak memberikan makanan padanya. Kucing itu mulai berpikir yang bukan-bukan, apakah si orang tidak lagi menyukai kehadirannya di serambi rumahnya? Atau si orang mulai tidak suka berbagi sedikit makanan dengannya? Kemudian, rasa lapar yang sangat menjadikan satu sisi dalam benak menyuruhnya untuk menyelinap ke dalam rumah, mencuri makanan yang boleh jadi oleh si orang disembunyikannya. Akan tetapi, sisi lain batinnya sekonyong-konyong mencegahnya. Kemudian, ketimbang melenakan pikiraannya berkembang kian parah terhadap si pemilik rumah atau malah tak kuat menahan godaan untuk mencuri makanan, ia menyat untuk kemudian berjalan gontai seperti ayam jago yang kalah berlaga.

Di luar dugaan si kucing, tidak lama setelah ia melangkah, si orang keluar dari dalam rumah dengan membawa sepotong goreng ayam untuknya. Bahkan, si orang sempat memanggilnya dengan suara yang umum digunakan oleh manusia terhadap kucing, yakni ci ci ci ci beberapa kali, tetapi sayangnya, bising sepeda motor yang berurutan melintas di jalan depan rumah orang itu menjadikan si kucing tidak mendengar panggilannya.

Kendatipun ada sedikit penyesalan dalam benak orang itu karena batal memberi makanan pada si kucing, ia segera menepisnya. Karena, bagaimanapun, Gusti Allah Ta’ala yang Maha Tahu—mengetahui segala sisi lahir maupun sisi batin seluruh makhluk ciptaan-Nya—tahu bahwa ia telah berniat berbuat baik terhadap sesama makhluk dan semoga Gusti Allah Ta’ala menyuruh malaikat-Nya mencatat niat tersebut sebagai amal baiknya. Dan, kendatipun, niat tadi tidak terlaksana, selanjutnya ia menaruh goreng ayam tersebut dekat batang pohon kelengkeng yang tumbuh subur di pekarangan depan rumahnya. Kali ini ia niatkan sebagai sedekah yang boleh jadi nanti kucing itu kembali lalu menemukannya atau ditemukan oleh kucing lainnya. Atau jikapun tidak ada seekor kucing yang menemukannya, mungkin akan dinikmati oleh semut atau binatang lainnya yang berhabitat di pekarangannya. Sementara, lantaran sedekah tersebut ia berharap semoga Gusti Allah Ta’ala yang Maha Pemurah—membalas amal hamba-Nya yang sedikit dengan balasan yang berlimpah ruah—menerima dan memberinya pahala yang ia hadiahkan untuk ayah-ibunya yang telah meninggal dunia.

Di luar dugaan si kucing, sebetulnya orang itu amat menyukainya. Atau lebih tepatnya menyukai hampir semua kucing, apa saja. Hanya, kesukaan tersebut sekarang tidak sedalam pada tahun-tahun sebelumnya. Saat masih kecil ia suka memelihara kucing, bahkan selain suka bermain-main dengan anak-anak kucingnya, saat tidur ia mengeloni mereka. Sebelum tidur ia acap mencarikan cicak-cicak yang berkeliaran di dinding-dinding rumahnya atau rumah tetangganya dengan cara menyamplukkan sarung yang ia gulung atau menjepretkan karet ke arah cicak tersebut, sementara kucing-kucingnya menanti di sekitarnya untuk kemudian menangkap si cicak dengan riang-gembira.

Beberapa tahun kemudian, saat ia mulai dewasa dan tidak lagi memelihara kucing, salah satu keponakannya yang berumah di sebelah rumahnya memelihara seekor kucing yang mana kucing tersebut acap menyelinap lewat jendela—yang lebih sering dibiarkan terbuka—dan betah tidur di kamarnya—dengannya. Dan, dengan kucing itu ia pernah mengalami satu peristiwa yang, menurutnya, sungguh luar biasa. Suatu pagi, saat terbangun ia mendapati bercak-bercak warna merah seperti darah pada seprei kasurnya. Rada panik ia memeriksa anggota tubuhnya, barangkali ada yang terluka, tetapi ia mendapati dirinya dalam keadaan utuh—utuh seutuh-utuhnya. Kemudian ia mengamati sekeliling, cemas pada kucing tersebut terjadi apa-apa. Akan tetapi, ia tidak menemukannya. Yang ia temukan malah sepotong daging segar dengan sisa-sisa darah di antara lipatan seprei yang ia periksa kemudian: daging seekor tikus, rupanya.

Mula-mula ia rada kesal, hal ini pasti kelakuan kucing tersebut yang tidak menghabiskan buruannya. Namun, sepengetahuannya saat kucing tersebut mendapatkan seekor tikus, tidak pernah memakannya di dalam rumahnya. Hingga sekonyong-konyong ia berpikir bahwa boleh jadi itu adalah cara si kucing berbagi, membalas kebaikannya yang acap memberi makanan dan mengelus-elusnya. Pada titik ini, perasaannya terenyuh: betapa seekor binatang pun membalas jasa. Kelak, seorang temannya yang juga sama suka memelihara kucing bercerita suatu kejadian yang hampir sama. Dan mereka sepakat kejadian itu mungkin adalah cara seekor kucing membalas budi orang yang menyayanginya.

Sekarang kesukaan orang itu pada kucing tersalurkan sekadar lewat mengelus-elusnya atau jika ada lauk goreng ikan atau ayam ia berbagi dengan kucing yang tampak di sekitar rumahnya.

Tinggalkan Balasan