Kucing

***

Seperginya dari rumah itu, mula-mula si kucing hendak berkitaran di sekitar rumah warga kampung itu yang telah ia hafal sebagai penyuka kucing, siapa tahu di antara mereka ada yang memberi makanan padanya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akan tetapi, saat ia mendekat ke sebuah rumah, sekonyong-konyong suatu pertimbangan melintas dalam benaknya, bagaimana kalau ia tidak diberi; bukankah hal ini selain memperparah kondisinya juga kian memperkuat godaan untuk mencuri? Maka, ia segera membelokkan kaki, menuju entah masih dengan langkah gontai.

Kemudian, satu dorongan cukup kuat mengentak benaknya, kenapa ia tidak mencari makanan sendiri? Sebagaimana dulu kerap ia lakukan saat belum mendapati orang-orang yang kepada kucing suka berbagi.

Selanjutnya melintas dalam benaknya, boleh jadi karena pemberian orang-orang ia jadi suka bermalas-malasan. Disusul kemudian, kenapa ia malah menyalahkan mereka yang boleh jadi ikhlas berbagi dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan?

Semakin dalam ia merenungkan—sembari berjalan tanpa tujuan—ia mendapati bahwa yang menjadikannya belakangan malas mencari makanan sendiri adalah semacam rasa putus asa yang terbit setelah berusaha keras mencarinya tetapi ia tidak mendapatkannya. Seperti pada beberapa kejadian, ia telah mati-matian mengejar-ngejar seekor tikus yang lari dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya, tetapi ia tidak dapat menangkapnya. Memang, tidak selalu ia tidak mendapatkan buruannya. Bahkan, pada beberapa kejadian, dengan begitu mudah ia mendapatkannya. Seperti pada suatu malam saat ia melintasi teras rumah seseorang, seekor cicak yang sedang merayap di dinding memburu nyamuk yang berseliweran di sekitarnya, sekonyong-konyong jatuh ke lantai yang kemudian dengan amat mudah dapat ia tangkap—boleh jadi karena panik atas kehadirannya.

Akan tetapi, subhanallahil adzim subhanallahi wa bikhamdihi—demikian ucapnya—saat teringat bahwa sering kali di malam setelah ia lelah berburu makanan tetapi tidak mendapatkannya, tak lama kemudian ia mendapat rezeki di luar dugaan. Seperti menemukan sepotong goreng ikan yang dibuang atau malah sengaja disedekahkan oleh seseorang dengan cara menaruhnya di pekarangan. Atau siangnya menemukan banyak sisa-sisa goreng ayam di sekitar rumah yang usai atau sedang mengadakan hajatan. Atau juga saat ia berjalan, sekonyong-konyong ia dipanggil dengan ungkapan khas manusia pada kucing, lalu memberinya makanan.

Pada titik ini ia mulai berpikir bahwa mungkin Gusti Allah Ta’ala menghendakinya—sebagai makhluk ciptaan—untuk selalu berusaha, sedangkan soal rezeki—dengan cara apa ia diberi—adalah urusan yang memberi rezeki, yakni Gusti Allah Ta’ala. Juga apabila sekali waktu ia diberi rezeki dengan cara berusaha mencarinya dan di waktu yang lain tanpa berusaha sama sekali bukankah ini menunjukkan bahwa atas segala sesuatu Gusti Allah Ta’ala Maha Kuasa? Subhanallahil adzim subhanallahi wa bikhamdihi, kembali—kali ini berkali-kali—ia mengucapkannya.

Di samping itu, ia rasa ada satu keasyikan tersendiri saat ia berusaha berburu yang mana ia mengerahkan segenap potensi—baik tubuh maupun mental—yang ada pada dirinya; bukankah ini pun bentuk mensyukuri—dengan cara menggunakan—karunia yang dibekalkan oleh Gusti Allah Ta’ala padanya untuk menjalani hidup di dunia? Alhamdulillah, demikian ucapnya atas kesadaran tadi yang diberikan oleh Gusti Allah Ta’ala dalam benaknya. Juga, alhamdulillah, langkah kakinya mengantarkannya sampai ke halaman sebuah masjid yang tampak bertarub cukup besar di mana orang-orang pada duduk di kursi mendengarkan seorang kiai mulang ngaji—menerangkan hal-hal terkait agama.

Kemudian, ia menyelinap di antara kaki-kaki kursi itu, di mana dus-dus nasi yang sebagian terbuka menampakkan sisa-sisa goreng ayam di dalamnya. Seusai mengucap bismillahirrahmaanirrahiim, dengan cukup lahap ia memakannya, hingga kenyang terasa. Kemudian, rampung mengucap hamdalah, awalnya ia hendak pergi dari situ dengan segera. Akan tetapi, karena itu bertepatan dengan kiai tersebut mengawali satu hikayat yang menceritakan tentang seorang manusia dengan seekor burung—seekor binatang seperti dirinya—, ia jadi tertarik, dan kemudian sembari duduk nglemprak di kolong sebuah kursi ia menyimaknya dengan saksama.

Adalah Syaqiq al-Balkhi, demikian kiai itu bercerita, seorang saudagar kaya-raya yang juga seorang santri yang berguru pada Ibrahim bin Adham, seorang sufi ternama. Suatu hari dalam perjalanannya untuk berdagang ke negeri Syam, Syaqiq al-Balkhi mendapati seekor burung yang cukup memprihatinkan keadaannya. Si burung, selain sayapnya tampak cacat, matanya buta. Bagaimana cara si burung mendapat makanan, demikian Syaqiq al-Balkhi bertanya-tanya dalam benaknya. Tidak lama kemudian, tidak ia nyana, datanglah seekor burung mendekati burung itu yang ternyata memberi makanan padanya. Maka, atas apa yang disaksikan, untuk beberapa saat Syaqiq al-Balkhi terpana.

Tinggalkan Balasan