Beberapa orang mengangguk, merasa mendapat alasan. Tapi lebih banyak yang resah.
“Kalau kita hentikan Maulid,” sahut Pak Tua Imam, “maka putuslah alasan orang kampung berkumpul. Kau ingin kampung ini sunyi? Kau ingin anak-anak tumbuh tanpa tahu bagaimana Nabi dilahirkan?”

Debat itu menular ke rumah-rumah. Ada bisik-bisik, ada sindiran, ada pandangan mata yang mendadak asing. Ibu Rasyid merasa tersayat. “Adik iparmu itu keras sekali,” keluhnya. “Padahal bapakmu dulu selalu jadi panitia Maulid.”
Rasyid mendengarkan, tapi hatinya pun bimbang. Ia sendiri sudah lama enggan. Baginya, Maulid identik dengan kehilangan. Kini perayaan itu justru memecah kampung. Seolah cahaya yang mestinya mengikat malah jadi api yang membakar.
Malam yang ditunggu tiba. Udara kampung penuh aroma minyak tanah, bunga kenanga, dan keringat manusia. Lentera sudah dinaikkan di bambu tinggi. Anak-anak berbaris dengan rebana di tangan. Orang-orang tua bersiap melagukan syair.
Rasyid berdiri di depan rumah, bimbang. Ibunya keluar dengan wajah lelah tapi penuh harap. “Ikutlah, Nak. Walau hanya berjalan di belakang. Jangan biarkan bapakmu hilang begitu saja dalam ingatan.”
Tatapan itu membuat Rasyid tak kuasa menolak. Dengan langkah berat, ia masuk dalam arak-arakan. Di kiri-kanan cahaya lampu bergetar seperti hati yang gelisah.
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad” suara syair mulai bergema. Rebana dipukul perlahan, melahirkan irama yang memantul di antara pohon kelapa. Arak-arakan berjalan menyusuri jalan tanah menuju surau.
Namun di simpang jalan, keributan menanti. Paman Zubair berdiri bersama beberapa orang, mengadang rombongan. Suaranya lantang menusuk malam.
“Hentikan! Untuk apa semua ini? Lihat berapa minyak terbuang hanya untuk lampu! Lihat berapa uang habis demi kue-kue! Bukankah lebih baik dipakai membantu fakir miskin?”
Rombongan terhenti. Anak-anak berhenti menabuh rebana. Suara syair mendadak putus. Angin bertiup membuat api lampu bergoyang, seakan ikut gentar.
