Lampu-lampu yang Tak Pernah Padam

“Ini bukan pesta,” balas Pak Tua Imam, wajahnya merah. “Ini pengikat hati kami. Apa kau hendak padamkan cahaya yang sudah turun-temurun menjaga kampung ini?”

Perdebatan memanas. Suara selawat bersaing dengan suara protes. Orang-orang mulai berteriak, sebagian mundur, sebagian maju. Dalam riuh itu, seorang anak kecil tersandung dan menabrak bambu yang menggantungkan lentera. Api jatuh menyambar janur kering di pinggir jalan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Api kecil itu menjalar cepat. Jeritan terdengar. Orang-orang panik, berlarian mencari air. Rasyid spontan menerjang. Tanpa pikir panjang, ia menepuk api dengan tangannya sendiri. Lidah api menjilat telapak tangannya, membuat kulit melepuh. Tapi api padam.

Semua terdiam. Napas Rasyid memburu, tangannya perih, wajahnya pucat. Hening mendadak menguasai malam. Dalam hening itu hanya suara jangkrik yang terdengar. Lentera bergoyang pelan, bayangan wajah orang-orang bergetar.

Ibu berlari menghampiri, membalut tangan anaknya dengan kerudung. Air matanya jatuh tanpa suara. Pak Tua Imam menunduk. Paman Zubair terdiam, pandangannya kosong. Api yang nyaris melahap hiasan itu seperti menampar semua orang: ternyata yang mereka jaga hanyalah perdebatan, sementara cahaya hampir musnah karena amarah.

Rasyid duduk di tanah, menahan sakit. Ia tidak berkata-kata. Hanya menatap lampu yang masih menyala di bambu. Dalam tatapannya, ada sesuatu yang berubah: kesadaran—mungkin—atau kerelaan.

Suara barzanji perlahan terdengar lagi, lirih seperti bisikan doa. Tidak ada yang menyuruh. Seorang lelaki tua mulai melagukan syair dengan suara bergetar, lalu yang lain ikut menyambung. Rebana dipukul pelan, bukan dengan riang, tapi dengan rendah hati. Arak-arakan tak dilanjutkan. Orang-orang memilih duduk melingkar di halaman surau. Mereka membaca syair bersama, suara naik-turun seperti ombak yang menyapu pantai sepi. Anak-anak tertidur di pangkuan ibunya. Lentera tetap menyala, cahayanya redup tapi hangat.

Rasyid menatap langit. Bintang-bintang bertaburan, namun tak seterang lampu minyak di sekelilingnya. Ia teringat ayahnya: wajahnya, tawanya, suaranya ketika memimpin rebana. Ia merasa ayah hadir di antara cahaya itu, bukan sebagai tubuh, tapi sebagai kenangan yang tak bisa dipadamkan. Tangannya sakit, tapi hatinya lega. Ia kini mengerti: Maulid bukan sekadar pesta, bukan sekadar tradisi. Ia adalah cara manusia menjaga cahaya agar tetap hidup sekalipun angin mencoba mematikannya.

Lampu-lampu bisa padam. Rebana bisa diam. Janur bisa hangus. Tapi cahaya Nabi tak pernah padam, karena ia tak disimpan di minyak atau sumbu, melainkan di hati manusia yang mau menjaganya.

Malam itu kampung belajar satu hal: bahwa cahaya bukan untuk diributkan, melainkan untuk diwariskan. Dan bagi Rasyid, malam Maulid itu bukan lagi malam kehilangan. Itu adalah malam ketika ia menemukan kembali ayahnya pada cahaya yang menyala di dalam dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan