Barangkali pencopet itu juga dalam keadaan lapar sepertiku, karena terkadang orang akan perbuat apa saja demi menghindari rasa lapar. Apalagi menghindari rasa lapar di malam hari, karena rasa lapar di malam hari lebih menyakitkan dari apa pun. Tetapi, ya sudahlah, pikirku, yang terpenting, hari ini, keluargaku bisa makan tanpa melakukan kejahatan.
Orang-orang yang mengejarnya putus asa. Perempuan yang menjadi korban pencopetan tak bisa berbuat apa-apa, selain melaporkan kasus ini ke polisi. Dari raut wajahnya, ia tidak terlalu bersedih. Tidak ada air mata yang tumpah di pelupuk matanya.

“Terima kasih bapak-bapak sudah menolong saya,” ucap perempuan itu.
“Kalau boleh kami tahu, apa saja yang ada di tas itu Bu,” tanya seorang warga yang membantu dalam pengejaran copet itu.
Perempuan itu tampak berat menjawabnya. Tapi ia tetap menjawabnya. Ia mengatakan jika tas itu berisi sejumlah uang untuk mendaftarkan haji dirinya dan suaminya. Akhirnya, perempuan itu menangis, sesenggukan. Ia bingung, harus bilang apa pada suaminya.
***
Sesampainya di rumah, aku mengetuk pintu dengan tangan bergetar. Dua kali ketukan tak ada respons dari dalam. Ketukan ketiga juga tidak ada jawaban. Jantung ini berdebar. Kemudian, aku membuka pintu dengan pelan. Daun pintu berderit. Terdengar suara tangisan dari arah kamar. Segara aku berlari lalu membuka pintu kamar. Adikku menangis. Air matanya membasahi kedua pipinya. Dalam keadaan terkejut, aku masih berdiri di hadapannya. Ia tidak menoleh sama sekali oleh kehadiranku. Matanya menatap lekat-lekat tubuh si bungsu dan menggoyang-goyangkan tubuhnya yang tergeletak tanpa bergerak. Seketika mataku memanas. Ada tenggorokan yang terasa tercekat. Pada akhirnya, air mata tidak bisa bertahan untuk tidak meleleh.
Kini si bungsu sudah menyusul ibu dan ia tidak akan kelaparan lagi.
***
Setelah kepergian si bungsu, dua hari kemudian, aku terbangun dari tidurku. Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, aku bermimpi bertemu dengan lelaki bermata teduh. Di mimpi itu, ia mempertemukan aku dengan ibu serta si bungsu. Mereka tampak begitu bahagia. Wajahnya berseri-seri mengenakan baju yang sangat indah.
Kemudian lelaki bermata teduh itu mengatakan sesuatu kepadaku. Jika aku tidak salah, ia mengatakan begini, “Seseorang bisa menjadi mulia karena dua hal, yaitu bersabar dan bersyukur. Nabi Ayub menjadi mulia karena kesabarannya, Nabi Sulaiman menjadi mulia karena rasa syukurnya.”
