Lapar

“Adik saya sedang sakit,” sambungku, dengan peluh bercucuran di kening. Keringat sebagian merembes di ketiak. Kemudian pelayan itu menyuruhku untuk menunggu sebelum pelayan itu berjalan menuju dapur.

Semenjak ibu tiada, aku yang harus merawat adik-adikku. Adikku yang pertama berusia enam tahun. Sementara adikku yang bungsu baru berusia empat tahun. Sebisanya aku menghidupi mereka dengan cara apa pun termasuk memulung, terkadang mengamen. Kalau tetangga sedang membutuhkan tenaga kuli, aku juga siap mengerjakannya. Kami menghindari mengemis. Itu pesan ibu beberapa tahun yang lalu, sebelum ia mangkat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga pekerjaan itu sangat sulit untuk kukerjakan. Menjadi pengamen, aku tidak berbakat untuk menjadi penyanyi sedikitpun. Suaraku tidak lebih baik dari suara kaleng rombeng. Orang yang mendengarnya pasti merasa risih. Aku pun tidak tahu tentang lagu-lagu yang biasanya dinyanyikan oleh pengamen. Selain itu, aku hanya berbekal tamborin yang kubuat sendiri dengan tutup botol minuman bersoda.

Pernah aku menjadi pemulung, namun aku dituduh maling. Sejak saat itu, aku sudah berhenti menjadi pemulung. Sampai kemudian, setiap ada gapura desa, ada tulisan pemulung dilarang masuk. Menjadi kuli tidak bisa kerja setiap hari. Hanya hari-hari tertentu.

Setelah aku menunggu beberapa waktu, seorang laki-laki berjalan ke arahku. Seorang lelaki paro baya dengan sorot mata yang meneduhkan menghampiriku dengan membawa bungkusan plastik hitam. Lelaki bermata teduh memberikan bungkusan itu kepadaku. Dari aromanya bungkusan itu berisi makanan. Setelah ia memberikan kepadaku, aku sangat bahagia. Sampai aku membayangkan betapa bahagianya adik-adikku bisa makan. Aku pun tidak bisa berkata apa pun, kecuali berterima kasih, sebab lelaki bermata teduh itu telah menyelamatkan hidupku dan kedua adikku untuk hari ini.

Aku sudah membayangkan betapa senangnya mereka bisa makan, terlebih adikku yang bungsu. Pasti ia akan segera sehat dan aku bisa melihat tawa riangnya kembali. Bayangan-bayangan menyenangkan sudah tergambar di benakku sambil menimang-nimang makanan yang ada di tanganku.

Aku pun tergerak untuk membuka bungkusan itu. Sungguh mengejutkan, ternyata makanan-makanan itu adalah makanan yang baru dimasak, bukan makanan sisa. Aroma daging sate harum sekali, ditambah lagi dengan bumbu kecap dan kacang yang membuat aromanya semakin menggiurkan. Selain itu, bungkusan yang kubawa ada nasi yang masih hangat. Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan, pikirku.

Aku berjalan tergesa-gesa, ingin segera mengetuk pintu dan segera menyajikan makanan yang aku bawa. Berlari kecil. Aku sudah tidak memedulikan delman yang melintas. Aku juga tidak peduli dengan mobil-mobil dinas yang super mewah yang dikawal oleh polisi dan sekelompok ajudan. Ya, kata orang-orang, itu adalah rombongan presiden yang meninjau pembangunan bandara. Sirine polisi pengawal presiden terus terdengar menggema di udara. Di tengah perjalananku, aku pun berhenti, membiarkan rombongan itu melewatiku.

Aku melempar pandanganku ke  balik kaca mobil. Aku tidak tahu mobil yang mana yang ditumpangi pak presiden. Tapi aku yakin, mobil yang paling depan itulah mobil yang dikendarai presiden, setelah dua polisi mengawalnya di bagian depan.

Selepas itu, presiden dan para rombongan berlalu. Tampak dari kejauhan, sirine masih terdengar lamat-lamat. Tetapi setelah suara itu lenyap, ada seorang perempuan berteriak minta tolong di depan gedung pengambilan uang. Dalam teriakannya, perempuan itu tengah mengalami kecopetan. Barangkali, tas perempuan itu telah disahut oleh pencopet. Dari arah barat, beberapa orang mengejar pencopet itu.

Si pencopet mencoba menggunakan jurus kaki seribu dengan berlari sekencang-kencangnya. Ia berlari di hadapanku, dan aku mencoba untuk menangkapnya, tetapi gagal. Ia terlalu tangguh untuk aku hadang. Akhirnya pencopet itu berhasil lolos.

Tinggalkan Balasan