Lari dari Medsos ke Semaan Puisi*

Apakah Saudara tahu kenapa kami sering-sering membaca biografi? Sebab, biografi itu adalah kunci!

Dulu, para penulis itu sibuk mencari identitas di tengah badai ideologi. Sekarang, sebagian kita malah sibuk mencari jati diri di tengah badai viral. Studi biografi adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Kita butuh tahu siapa Sutan Takdir Alisjahbana, siapa Sanusi Pane, siapa Ajip Rosidi, siapa H.B. Jassin, dan kenapa Hamzah Fansuri menulis seperti itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Biografi itu bukan sekadar catatan hidup, tapi warisan yang memberi inspirasi dan pemahaman.

Maka dari itu, kami kali ini melangsungkan Haul Sastrawan 2025, untuk mengenang kembali perjalanan 12 Sastrawan Agung yang biografinya pernah kami pelajari. Semoga kita tersadarkan, bahwa masalah kita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pergulatan batin mereka menghadapi zaman.

Kami tahu, kita semua hari ini terombang-ambing. Kita tidak tahu harus ikut siapa. Kita lupa asal-usul dan riwayat kita.

Kami membaca biografi karena kami sadar, kami tidak akan bisa memahami puisi tanpa memahami penyairnya. Biografi adalah kunci yang membuka gembok pemahaman. Itu adalah jembatan yang menghubungkan kegelisahan hari ini dengan jawaban yang ditemukan di masa lalu. Kami melatih diri untuk berpikir mendalam, bukan sekadar mengklik cepat.

Haul Sastrawan yang kami gelar ini, Saudara-saudara, bukanlah acara duka cita biasa. Ini adalah Tahlil Akbar untuk para Pendekar Pena yang telah menjaga akal sehat negeri ini.

Kami hauli 12 nama besar, dari Amir Hamzah yang mistik, Sanusi Pane yang filosofis, Chairil Anwar yang ugal-ugalan, Sutan Takdir yang modernis, sampai Rendra yang nyentrik dan teatrikal. Kami melakukan ini untuk mempertahankan warisan budaya, agar kita tidak lupa pada orang-orang yang telah mempertaruhkan nyawa dan pena demi kemerdekaan jiwa bangsa ini.

Asrul Sani adalah Kunci

Nah, sekarang kita masuk ke acara intinya: Haul 12 Pendekar Pena.

Kita hauli mereka semua—Hamzah Fansuri, Chairil Anwar, Rendra, Amir Hamzah, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, Ajip Rosidi, Sutan Takdir Alisjahbana, H.B Jassin, Sanusi Pane, Rivai Apin, dan Asrul Sani. Tapi izinkan saya mengatakan satu hal: di antara 12 nama besar itu, Asrul Sani adalah Kunci Utama untuk memahami warisan kita hari ini.

Kenapa Asrul Sani, si Pendekar Kamera dan Pena?

Sebab, beliau adalah Sang Keseimbangan! Beliau adalah kunci untuk menemukan keseimbangan di tengah segala ekstrem.

Dulu, beliau berjuang menemukan ruh iman di tengah politik dan film (layar perak).

Hari ini, kami butuh kunci beliau untuk menemukan ruh keseimbangan di tengah lautan konten boros energi di layar digital.

Di zaman di mana ideologi seperti gembok baja, Asrul Sani adalah kunci yang berhasil membuka paksa semua gembok itu.

Di tengah pertarungan ideologi yang dulu bikin kuping pekak—antara Barat dan Timur, antara Politik dan Iman, antara Sekuler dan Dogmatis—Asrul Sani datang bukan untuk memilih salah satu.

Dia datang membawa Kunci Keseimbangan.

Dia bilang, kita ini ahli waris kebudayaan dunia. Ambil semua, jangan takut, tapi tetaplah jadi Indonesia.

Dia bilang, Iman itu bukan penjara, tapi sumber kebebasan dan kreativitas lewat Lesbumi.

Mas Asrul mengajarkan pada kami: moderasi bukan berarti pengecut yang diam di tengah, tetapi seniman sejati yang berani menciptakan sintesis. Dia menunjukkan bahwa agama itu bukan untuk dipisahkan dari seni, tetapi harus menjadi “bentuk batin kesatuan kebudayaan”. Bahwa kebudayaan yang sejati adalah keseimbangan antara Tuhan dan Manusia.

Asrul Sani mengajarkan, entah itu di kertas puisi atau di layar film: karya harus punya fondasi iman dan tanggung jawab moral.

Sekarang, kita harus bicara soal film.

Asrul Sani ini, Saudara-saudara, bukan cuma jago merangkai kata di kertas, tetapi juga jago merangkai gambar di layar perak. Beliau adalah sineas, yang menerjemahkan batin bangsa ke layar perak! Beliau ini kunci dalam sejarah film kita.

Lalu, apa kaitannya dengan hari ini?

Hari ini, kita semua menikmati hasilnya. Film dan video itu bukan lagi barang mewah dan asing. Kalian bisa menonton di mana saja, kapan saja, di layar gadget yang kami coba larikan itu!

Namun, di situ pula cacatnya!

Dulu, Asrul Sani lewat Lesbumi melawan Lekra yang menjadikan seni sebagai alat politik. Asrul melawan pemikiran bahwa seni itu harus kehilangan ruh iman.

Sekarang? Film, video, dan semua konten di layar digital itu seringkali berubah menjadi alat dangkal: alat untuk viral, alat untuk mencari sensasi, alat untuk menghilangkan akal sehat. Ruh kebudayaan yang dulu diperjuangkan Mas Asrul, kini tenggelam di lautan konten yang memabukkan!

Saudara-saudara, Haul ini bukan sekadar mengenang, tetapi menggunakan kunci yang sudah ditinggalkan para Pendekar Pena. Asrul Sani meninggalkan kunci untuk melawan ekstremisme baru—entah itu radikalisme agama, radikalisme politik, atau bahkan radikalisme media sosial—dengan Keseimbangan Kebudayaan.

Maka, hadirin sekalian!

Kami menyindir, kami berhumor, kami melawan kekakuan. Dan kami mengajak kalian semua untuk menggunakan kunci Asrul Sani!

Tinggalkan Balasan