Gunakan kunci itu untuk:
Membuka gembok di kepala dari segala fanatisme dan ekstremisme digital.

Membuka ruang dialog antara iman dan akal yang sering bertengkar.
Mari kita teruskan semangat para Pendekar Pena ini. Jangan sampai Indonesia kehabisan manusia yang berani berpikir dengan kepala sendiri dan berani menulis dengan hati nurani.
Maka dari itu, saya tegaskan lagi: Asrul Sani adalah Kunci!
Dia adalah kunci untuk menemukan keseimbangan di layar digital kita hari ini.
Dia mengajarkan bahwa karya (film, video, atau tulisan) harus punya fondasi iman dan tanggung jawab moral, bukan sekadar keterkenalan.
Dia mengajarkan bahwa kita harus menemukan simpul dua tali—antara Tuhan dan Manusia—agar karya kita tidak tercerabut dari martabatnya.
Jadi, para pembuat konten, para penikmat film! Jangan jadikan gadget kalian sebagai alat untuk lari dari akal sehat. Jadikan ia sebagai panggung baru untuk menanamkan ruh kebudayaan yang seimbang, yang dulu diperjuangkan oleh Pendekar Kamera dan Pena seperti Asrul Sani!
Mari kita gunakan kunci ini untuk menciptakan karya yang berani, jenius, dan bermoral.
Asrul Sani bukan hanya sastrawan, tetapi juga sineas dan penerjemah sastra dunia. Beliau adalah kunci bagi perkembangan film kita. Warisannya ini penting, sebab hari ini, film dan video bukan lagi barang asing, tetapi sudah ada di gadget kita masing-masing.
Masalah kita hari ini sama dengan masalah Mas Asrul dulu: karya (film/video/konten) sering kehilangan ruh dan menjadi dangkal.
Maka, pesan kami jelas: Gunakan Kunci Asrul Sani! Terapkan Keseimbangan Kebudayaan dalam setiap layar yang kalian tonton dan setiap kata yang kita tulis. Keseimbangan itu ada di sana: keseimbangan antara iman dan kebebasan, antara Tuhan dan Manusia. Itulah cara kita melawan kebisingan zaman ini.
Keseimbangan Antara Kertas dan Layar
Jadi, Saudara-saudara sekalian!
Kami mengajak kalian semua! Jangan hanya meneriakkan go-green di media sosial, tetapi praktikkan! Matikan gadget, ambil kertas puisi, dan mulailah melatih diri.
Gunakan Kunci Asrul Sani untuk menjaga keseimbangan kita:
Keseimbangan antara kebebasan batin dan tanggung jawab spiritual.
Keseimbangan antara teknologi yang efisien dan lingkungan yang sehat.
Kertas itu bisa kuning dan lapuk, tapi roh dan akal sehat yang kalian tanamkan saat membaca puisi itu akan kekal.
Sekian dari kami. Dan sekali lagi: Mari kita matikan gadget kita sekarang juga, demi akal sehat dan lingkungan yang lebih hijau!
Sekian. Mari kita teruskan Haul ini. Dan saya harap, setelah ini, jangan ada lagi konten yang hanya mengejar viewers tanpa visi!
Selamat ber-Haul! Selamat ber-Semaan! Dan yang paling penting: Mari kita matikan gadget kita sekarang juga!
Selamat ber-Haul! Selamat ber-Semaan!
Semoga kita semua kembali ke rumah dengan jiwa yang lebih jernih dan tanpa tergoda untuk scroll media sosial!
Kami berharap, kehadiran Semaan Puisi sebagai tempat melarikan diri dari kebisingan, semoga tidak menciptakan kebisingan baru.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Demikian. Sekian. Terima kasih.
CAG!
Aku Cinta Padamu.
*Artikel ini merupakan bagian dari buku acara Semaan Puisi dan Haul Sastrawan 2025 yang dilaksanakan di Makara Art Center Universitas Indonesia, Selasa (18/10/2025). Berisi enam tulisan yang juga diterbitkan di laman duniasantri.co secara bersambungan. Keenam naskah dalam buku ini adalah “Asrul Sani: Jalan Wasatiah Kebudayaan Indonesia” oleh Jamal D. Rahman; “Surat Semaan Puisi: dari Gelanggang ke Adakopi” oleh Mahwi Air Tawar; “Semaan Puisi: Melarikan dari Media Sosial, Kok Malah Ngurusi Mayat Penyair?” oleh Angin Kamajaya; “Lesbumi dan Revitalisasi Seni Budaya Pesantren” oleh Ngatawi Al-Zastrouw; “Kreator Jalan Ketiga yang Terlupakan: Refleksi Identitas Intelektual Asrul Sani” oleh Andy Lesmana; dan “Yang Mengusik Takdir” oleh Mukhlisin Ashar.
