Titik antara Anta Maqshudi dan Ridhaka Matlubi
#Cintaitu sungguh berada satu titik.

Titik antara hati ini menjadi tentram saat mengingat diriMu dan hatiku bergetar saat menyebut namaMu.
Masih dalam puisi Gus Nadir. Beliau bukan saja menggarap larik aksara cinta kepada kepada sang Khalik. Tetapi, juga membangun tutur dan ujaran cinta terhadap Kanjeng Nabi (Muhammad saw). Dalam puisi yang berjudul “#CintaItu Muhammadku” (hal. 8), Gus Nadir berusaha menghadirkan ragam rindu dari rindu yang paling mendada. Dalam puisi ini, Gus Nadir menghadirkan rindu dengan ungkapan seadanya, nyata, dan sesungguhnya. “Oh Muhammadku//shalawat dan salam rinduku.” Sebuah kalimat puitik yang menyembul begitu saja dari lubuk hati yang paling dalam. Rindu keabadian. Rindu yang paling durja.
Selama ini kita selalu berkalung rindu. Rindu kepada Nabi Muhammad. Menyenandungkan kalimat-kalimat mujarab. Helai aksara cinta dan kuntum huruf-huruf rindu. Di bulan ini, bulan Maulid (Rabi’ul Awal), sebagai bulan kelahiran Rasulullah. Maka sudah sangat familiar di mana-mana, di seantero jagat, kalimat-kalimat doa itu meluruh di relung jiwa umat Muhammad. Membumikan teks “rinduitu” menjadi konteks kerinduan dengan tahbis lelaku keseharian mengikuti sunah Rasulullah.
Sementara, dalam judul puisi “Doa Malam” (hal.26), Gus Nadir membangun rangkaian doa yang lebih bias. Dari lingkar batang puisi tidak diketahui ke mana arah doa itu diunjukkan. Namun, penulis tetap dalam jangkauan cinta abadi dan rindu yang kekal. Dalam puisi ini Gus Nadir masih kukuh pada ruh doa Nabi Muhammad. //Malam esok kan kusiapkan doa berikutnya/Tiada malam terlewat tanpa mendoakanmu/Begitulah caraku menunggumu//. Mengapa penulis cenderung kepada Nabi Muhammad? Karen dari liris puisi yang ditulis oleh Gus Nadir, kata ganti “mu” untuk Tuhan menggunakan huruf kapital. Sementara untuk Nabi Muhammad menggunakan huruf kecil. Tapi, boleh saja pembaca membangun makna puisi dengan ragam tafsir. Karena puisi dicipta dengan ragam makna yang memungkinkan. Meniscayakan.
Puisi Gus Nadir ini selesai pada halaman terakhir. Sedangkan halaman terakhir bukan di halaman akhir buku, namun di tengah-tengah buku. Apa pasal? Karena buku unik ini dibagi dalam dua bagian dengan halaman awal yang berkebalikan. Di buku sebaliknya diisi oleh tulisan puisi Kang Maman. Dan lagi-lagi akhir puisi Kang Maman juga di tengah-tengah buku. Pas di tengah-tengah buku (tidak pas benar, puisi Gus Nadir berakhir pada halaman 48, sedangkan puisi Kang Maman berakhir pada halaman 98), adalah biodata kedua penyair dengan halaman gelap dan tulisan putih. Unik, bukan?
