Trump adalah fenomena. Dan ia memang fenomenal. Dari seorang pebisnis sukses, Donald Trump bertransformasi menjadi tokoh politik paling populis yang memegang tampuk kekuasaan paling berpengaruh sejagat: Presiden Amerika Serikat.
Tapi Trump juga sebuah paradoks. Lahir dari rahim demokrasi, ia mengada dalam sebentuk antitesis demokrasi.

Jika kita membaca kembali buku Bagaimana Demokrasi Mati (How Democracies Die) karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt (2018), sejak mula kemunculannya di panggung politik dunia Trump adalah penggambaran dari karakter-karakter antidemokrasi yang lahir dan hidup di alam demokrasi.
Karakter-karakter itu menjadi begitu telanjang di panggung kontestasi pemilihan Presiden Amerika Serikat hari-hari ini. Tidak bisa atau tidak mau menerima kekalahan dan kemudian mencoba mendelegitimasi lembaga penyelenggara pemilihan umum (pemilu) adalah di antara indikator karakter antitesis demokrasi itu.
