Sementara itu, puisi-puisi Kang Maman lebih umum, membias dalam ambigu makna yang sangat luas. Seperti pada judul puisi Doa (hal. 6), Kang Maman membangun nuansa kesetaraan antara lelaki dan perempuan. //Di punggung lelaki/Doa-doa dituliskan/Dan dilangitkan//Di pangkuan perempuan//Doa-doa dirangkaikan/dan dibumikan//.
Puisi dengan rangkaian frasa ini ingin membangun diksi kesamaan antara laki-laki dan perempuan. Bahwa keduanya mempunyai peran yang tidak sama. Namun memiliki kesempatan yang padu, saling melengkapi, dan kerja sama yang akan menghasilkan kesempurnaan. Doa itu dilangitkan (munajat kepada Khalik), sekaligus dibumikan (reflaksi dari doa yang dilangitkan menjadi kasih dan hidayah di muka bumi).

Berikutnya Kang Maman yang suka membangun citraan puisi dengan kata dan frasa, dalam judul puisi Lebaran menabur diksi yang asik. “Lebarkan,” “Lebur,” “Luber,” dan “Labur” adalah diksi dengan awalan huruf yang sama (L) dan huruf akhir yang sama pula (r). Citraan puisi dibangun atas kesesuaian fonem atau bunyi yang padu.
Tetapi, Kang Maman tidak hanya menulis bait-bait puisi yang jelas, tegas, dengan kata dan frasa yang pendek. Pada judul puisi Melangit Bersama (hal. 31) diawali dengan sebuah prosa. Sebuah titah sejarah dari keluarga Rasulullah. Meskipun pada akhirnya, puisi yang ditulis di bawah judul “Melangit Bersama” ini, tetap pada jalur kata dan frasa yang pendek namun tegas. Kang Maman kembali pada karakter penulisan puisi yang seadanya dan sepantasnya.
Buku puisi ini, dengan cetakan yang unik menjadi nilai lebih tersendiri. Tidak banyak buku yang ditulis oleh dua orang kemudian di atas dua sisi yang berlainan. Hal ini merupakan sebuah terobosan, agar pembaca menikmati suguhan litarasi (baca: karya puisi) dengan format yang tidak biasa. Apalagi, buku puisi yang diterbitkan oleh PT Grasindo (2020), dicetak dengan kover tebal (hard cover). Menjadi keunggulan tersendiri dan nilai plus untuk sebuah buku puisi yang baik. Maka penulis sarankan, bagi para pecinta literasi untuk membaca buku ini sebagai bagian dari khazanah perpuisian.
Dalam pengamatan penulis, kedua penulis puisi ini memiliki karakter pengungkapan yang berbeda. Kalau Gus Nadir lebih religius meski ada juga puisi yang nasionalis, sebaliknya Kang Maman lebih nasionalis, meski ada juga puisi yang religius. Namun keduanya memiliki format kesamaan dalam hal tujuan dari penulisan ini, yaitu menyebarkan kemanfaatan untuk orang lain.
Ada sedikit hal yang agak membingungkan, dalam beberapa puisi tidak terdaftar di daftar isi. Hal ini sempat membingungkan penulis. Entah disengaja atau tidak, yang pasti kemudian adalah, bahwa buku puisi ini layak untuk kita baca. Wallahu A’lam!
