“Petiklah kata-kata dari langit, pinjamlah rembulan dan bintang gemintang. Ajak mereka berbincang. Kepada daratan, tuliskanlah bait-bait kerinduan agar rindumu tak berceceran. Lalu kepada laut, harus engkau titipkan surat surat kerinduan. Agar ia sampaikan kepada senja yang ia peram sebelum purnama tiba.” —Kinanti
Aku mengeluarkan botol kaca dari dalam tas. Botol bekas minuman bersoda yang kubeli sebelum sampai di pantai siang ini. Meskipun terkesan melankolis, aku tetap ingin melakukannya. Aku pernah membacanya di buku-buku, juga melihatnya di salah satu adegan film, di mana sang pemeran utama menuliskan surat kemudian memasukkannya ke dalam botol dan melemparkannya ke lautan lepas.

Katanya, hal itu bisa membuat perasaan seseorang lega, bahkan sangat lega. Sebab, menyampaikan kerinduan kepada lautan lepas yang luas nan dalam lebih bebas karena ia bisa menjaga rahasia sebesar apa pun, dan tanpa membocorkannya pada siapa pun. Lautan bak seorang ibu, luas nan dalam, serta menerima seluruh kebaikan dan keburukan.
Ini kali kedua aku melakukannya. Sebelumnya, aku bersama laki-laki yang setengah mati mencintai perempuan yang juga amat kucintai. Kami mencintai perempuan yang sama. Hari itu kami duduk berdua di bibir pantai tanpa sepatah kata pun, dan aku tidak masalah dengan itu.
Meski bepergian bersama dengannya sejak pagi, entah kenapa rasanya diam menjadi pilihan yang tepat. Tidak ada yang ia sampaikan, pun tidak ada yang harus kutanyakan. Laki-laki itu duduk bersila menegakkan punggungnya menatap lautan, dan aku memeluk kedua lututku sembari menopangkan dagu di atasnya. Melihat pandangannya yang tak sedikit pun menoleh kepadaku, aku mulai ragu kalau pikirannya sedang di sini bersamaku.
Kupikir lebih baik mengeluarkan kertas dan pena yang kubawa ke mana pun aku pergi. Hari itu aku menulis pengaduan rindu untuk pertama kalinya setelah empat tahun berlalu…
Bu, apa kabar? Semoga kau di sana sedang bersenang-senang. Ada yang amat sangat rindu denganmu, tapi kata katanya tercekat di tenggorokan. Sejak kepergianmu, kami semua seperti bersama-sama menyangga langit yang hendak runtuh. Rasa sedih, hampir setiap hari bertamu. Katanya, kehadiran ragamu sungguh sangat berarti baginya.
Bertahun tahun merawatmu dalam kondisi sakit, menjadi hari terbaik sepanjang tahun dibandingkan kehilangan ragamu meski barang sehari. Kau sungguh perempuan beruntung karena dipasangkan dengan laki-laki yang amat mencintaimu.
Bu, bulan-bulan awal setelah kepergianmu, aku seperti berdiri di ujung tebing, dan hendak melemparkan diri ke bawahnya. Tetapi laki-lakimu memelukku erat, kedua tangannya seakan mencengkeram kedua lenganku. Meyakinkanku bahwa kematian bukan hal yang harus ditangisi. Ia milik Tuhan. Kau juga milik-Nya. Semuanya akan diambil sewaktu-waktu.
Berat sekali rasanya menjadi diriku, Bu, apalagi menjadi dirinya. Saat kutuliskan surat ini, aku tahu ia sedang mencoba mengajakmu bicara. Apa kau mendengar bisikan rindu dari hatinya? Semoga kau mau membujuknya tetap bersamaku untuk waktu yang cukup lama. Ada banyak rasa cinta yang masih ingin kutunjukkan padanya.
Bu, meski tahun-tahun berlalu, kulihat dalam catatan buku hariannya tetap tentangmu. Aku selalu megharu-biru tiap kali membacanya. Betapa besar kerinduannya kepadamu. Entah berapa kali engkau datang dalam mimpinya, atau berapa kali perjalanan cinta kalian diputar ulang dalam memorinya. Aku tak pernah tahu, sebab diamnya adalah untuk kesembuhan lukaku.
