Ia simpan sendiri kepingan hatinya yang berserakan hingga aku tak bisa melihat sama sekali, bahkan ketika ia memelukku saat menangis.
Bu, aku menceritakan padamu tentang kerinduan seseorang. Kerinduanku sendiri akan kusimpan di ujung pelangi sore ini. Engkau sendiri sudah tersimpan erat di dalam palung hatiku, Bu. Rasanya aku tidak boleh menangis seperti dahulu.

Suatu hari, jika kebaikan juga keberuntungan datang di hidupku, aku meyakini itu berkat doa-doa panjangmu yang dikabulkan Tuhan.
Salam cinta dari putrimu, Kinanti.
Kugulung kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam botol yang sejak tadi sudah kusiapkan di sampingku. Ada perasaan lega karena menuliskannya, meski aku tak mengerti apakah laut akan benar-benar menyampaikannya kepada Ibu di surga.
Aku hanya berbisik pelan dalam hati kecilku, Tuhan sampaikan kepada Ibu bahwa kami berdua sangat rindu. Dan perlahan botol itu meninggalkan bibir pantai, mengikuti ombak yang terus bergantian menggulungnya ke sana-kemari.
Kakiku mulai meninggalkan riak kecil menuju pantai menghampiri laki-laki yang sedari tadi tak beranjak dari lamunannya.
“Ayo pulang, Kinan lapar.”
Sore menjelang beduk maghrib kami mulai berkemas pulang. Sejujurnya aku tak begitu mengerti, entah apakah hari itu istimewah ataukah ia memang sekedar ingin menghilangkan pengap dalam dadanya. Aku pun tak berani menanyakan alasan kenapa ia mengajakku jalan-jalan sejak pagi. Saat kami pulang pun tak sepatah kata terucap.
***
Hari ini hampir setahun sudah perjalanan ke pantai bersama Bapak. Kemarin sore, tiba-tiba saja saat melihat mega merah di langit hatiku tergerak untuk kembali lagi ke pantai ini. Tetapi kali ini aku benar-benar seorang diri, tidak ada Bapak yang terlihat termenung di sampingku yang diliputi kerinduan. Sebab, ia sudah menapak perjumpaan dengan pujaan hatinya di surga. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah suratku telah Ibu baca? Barangkali kali ini Bapak yang menerimanya, maka aku harus menuliskannya.
Untuk bapak terkasih, Bagaimana kabarnya Pak? Semoga bahagia. Sudah bertemu Ibu? Apakah Ibu masih secantik dahulu?
