Ah, Kinan yakin kali ini lebih cantik. Itulah kenapa Bapak tak sabar untuk bertemu dengannya, bukan? Kinan di sini baik-baik saja. Tak perlu khawatir. Bapak sudah mewariskan banyak hal baik sepanjang hidup Bapak. Bahkan, kata Bapak, Kinanti-lah warisan terbesar peninggalan Bapak untuk keluarga. Doakan saja dari sana semoga tak mengecewakan.
Pak, meski sejujurnya bak langit runtuh yang kedua kali karena kepergian Bapak, kali ini Kinan tak bisa menyangganya seperti dahulu saat Bapak masih ada. Kinan membiarkannya runtuh berkeping-keping tanpa memungutnya sama sekali. Kinan mencari cara lain, sengaja membiarkan kesedihan jatuh bertubi-tubi tanpa menahannya agar kemudian Tuhan yang menata reruntuhannya.

Dahulu, Bapak-lah yang sering menguatkan Kinan sepeninggalan Ibu. Dan ajaibnya, kata-kata Bapak seperti mata air di tengah gurun yang kering, sangat menyegarkan dan membuat Kinan bangkit, bisa melanjutkan perjalanan.
Kali ini mungkin Tuhan lebih menyayangi Kinan setelah Bapak pergi. Kasih saying-Nya semakin besar, sebab Kinan merasa semakin kuat menjalani hari-hari sendirian tanpa Ibu dan Bapak.
Terima kasih, sudah menjadi Bapak yang baik, yang pernah hadir dalam kehidupan Kinan. Foto-foto yang Bapak ambil waktu mengajari Kinan naik sepeda, mengajari Kinan membaca, mengajari Kinan berenang, sampai mengajari Kinan bergaya, akan selalu Kinan simpan sebagai kenangan indah.
Semoga nanti usai menikah, Kinan bisa tumbuh menjadi orang tua yang baik seperti Ibu dan Bapak.
Sekali lagi, doakan Kinan. Sampaikan salam rindu untuk Ibu, dari putrinya, Kinanti. Semoga yang ada padaku seputih arti nama pemberiannya.
Salam saying, Kinanti
Kedua kalinya aku menggulung kertas surat dan memasukkannya ke dalam botol, dan membiarkan ombak menggulungnya ke sana-kemari. Aku yakin ia dalam perjalanan ke alamat yang dituju.
Beduk maghrib terdengar jelas dari masjid di seberang jalan. Aku harus bergegas mengambil wudhu dan bersujud untuk berterima kasih tentang banyak hal.
