Sembilan ulama penyebar Islam di Jawa yang dikenal sebagai Wali Sanga diketahui memiliki cara-cara khusus dalam mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa yang saat itu masih menganut kepercayaan dan tradisi Hindu-Budha. Salah satu cara tersebut adalah dengan mengenalkan nabi dan rasul Allah dengan gaya cerita khas Jawa. Tujuannya, agar masyarakat Jawa senang dan mudah mengenal nabi dan rasul.
Kisah nabi dan rasul yang dituliskan dalam bahasa Jawa tersebut termuat dalam manuskrip Layang Anbiya. Manuskrip ini ditemukan di Paciran, Lamongan, Jawa Timur, yang merupakan karya Sunan Drajat. Salah satu nabi yang kisahnya termuat dalam Layang Anbiya adalah Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim merupakan salah satu nabi dan rasul yang memiliki banyak keistimewaan. Di antara keistimewaannya, Nabi Ibrahim adalah seorang ahli logika, ahli mantiq, memiliki kesabaran yang luar biasa (ulul azmi), memiliki keturunan yang mayoritas menjadi nabi dan rasul (abul anbiya’ atau bapak para nabi, mendapat julukan khalilullah (kekasih Allah), dan masih banyak keistimewaan yang lainnya.

Dalam Islam, Nabi Ibrahim dikisahkan sebagai putra dari seorang pembuat berhala yang bernama Azar. Sedangkan, dalam Layang Anbiya Nabi Ibrahim dikisahkan sebagai putra dari patih Raja Namrud yang bernama Patih Najar. Kelahirannya pun sudah diramalkan akan menjadi musuh dan pengahncur Raja Namrud. Sehingga, Raja Namrud yang mendengarkan ramalan itu, bergegas memerintahkan patihnya untuk mengumumkan pada rakyatnya agar tidak melakukan hubungan suami istri selama tiga hari tiga malam. Laki-laki dan perempuan harus terpisah selama tiga hari tiga malam.
Syahdan, pada malam itu istri patih Najar merasa ingin sekali bertemu suaminya dan datang ke kerajaan. Patih Najar yang melihat istrinya datang, kaget dan ketakutan. Jika Raja Namrud mengetahui pasti akan marah besar. Ketika Raja Namrud sedang tidur, terjadilah Patih Najar dan istrinya berhubungan suami istri. Berikut kutipannya dalam Layang Anbiya :
Sri Naranata, lah patih undangana, salabeting tigang dalu, ajana wang sacumbana. Jalu klawan pawastri, lah pada sira pisaha, wang Babul sarupane, Patih amatur sandika, aluaran Sang Nata, sampun lumebing kedaton, ing Sri Naranata. Saking takdiring Hyang Widi, garwane Najar semana, kagegas saking rasmine, ing kakung pulang asmara, risaksana lumampah, malebet ing jero kedaton, ing dalu tanana wikan. Najar kageyat tumungal, sadatenge garwanipun, kumenyut teyas takonan. Saking takdire Hyang Widi, prapti jin mateni damar, tan antara sapatemon, sacumba ngulu nira, Sang Nata nuju nindra, pinareng nuthfah tumurun, sampune tedak winarna. (Layang Anbiya, 2016: 65)

Dalam Layang Anbiya, Raja Namrud disebut dengan Sri Naranata yang dalam bahasa Jawa berarti sang raja. Ketika sudah waktunya tiba, dan raja bertanya kepada ahli tafsir tentang apaakah musuhnya masih ada di dunia, ahli tafsir menjawab, “Ya Gusti sudah dekat, nutfah turun kepada rahim perempuan pada malam hari dan raja tidak tahu.”
Raja berkata, “Patih, apa yang kau lakukan sehingga kau tidak tahu apa-apa!”
Patih Ahmad menjawab, “Mohon maaf paduka, yang hamil akan diperiksa dan akan diberitahukan kepada raja.”
“Tanpa dosa harus dibunuh, itu keinginanku, jika keluar laki-laki bunuhlah, istrinya Najar sedang hamil tua, hamilnya sudah sembilan bulan,” kata Raja.
Ketika Istri patih Najar akan melahirkan, ia keluar rumah menjauhkan diri dari kota dan tinggal hutan. Di hutan, ia melahirkan di dalam gua. Bayi yang dilahirkan laki-laki dan tampan wajahnya. Setelah itu ia bergegas meninggalkan gua.
Setelah sampai di rumah, ia ditanya oleh suaminya, “Kenapa perutmu sudah kempis?”
“Saya keguguran semalam dan sudah saya keluarkan dan saya buang,” jawabnya.
Patih kemudian kembali ke istana dan melaporkan kepada raja kalau istrinya keguguran dan sudah dibuang di hutan lalu dimakan harimau. Sang raja berkata, “Jika seperti itu carilah, beritahukan pada semua orang, jika bayinya ketemu, bakarlah buang abunya.”
“Wus katur Sri Narapati, garwane Najar awawerat, yen metu lanang pinaten,sapa ingkang awaweka, lanang ing jeroning mongso, pinaten dening Sang Prabu. Garwane Najar winarni, ing dalu arsa waweka, ke-mangan tambuh polahe, medal saking padaleman, miyosi jawining kito, praptaing wana era ing gunung, apuputra jeruning gua. Sampune tinelar mulih, babayi kantun ing gua, jalu abagus warnane, kawarnaha ingkang ibu, injang sami tinakenan. Patih Najar saking kemit, anengali saumahira, teka wus kempir wetege, paran ramping weteng ira, ature garwa amba, karuroning wau dalu, medal lase kulo bujal”. Patih matur ing Narapati, yen rabi kula waweka, kaluroning wau dalu, medal lase wus binujal. Ing wana sineleh siti, kados yen tineda macan, Sang Raja Namrud wuwuse, yen mangkana ulatana, uningaha wang katah, yen jabang bayi katemu, abongen awu binujal.
